Posted by: salimdarmadi | 13 August 2012

Solilokui Si Kembar

Salim Darmawan dan Salim Darmadi ketika balita (dok. H Maksum Dahlan)

”Kamu kembar ya?”

”Kalau kembaranmu sakit, kamu merasa sakit juga gak?”

”Menghadapi kamu saja sudah repot, apalagi kalau kamu ada dua!”

”Nanti bagaimana kalau istri kamu salah membedakan kamu dengan kembaranmu?”

Begitulah sebagian komentar teman-teman saya di Jakarta yang baru mengetahui bahwa saya mempunyai seorang saudara kembar. Komentarnya macam-macam. Bagaimanapun, reaksi takjub itu selalu ada. Meskipun orang kembar itu banyak dan dapat ditemui di mana-mana, proporsinya di lingkungan kita tentu sangat kecil. Dan saya termasuk salah seorang yang tahu bagaimana rasanya mempunyai saudara kembar.

Ya, saya dan saudara kembar saya terlahir sebagai sepasang anak kembar identik. Saya lahir sekitar lima menit setelah kelahiran kembar saya. Fenomena kembar adalah fenomena luar biasa yang menunjukkan kuasa Allah Sang Maha Pencipta. Sebuah sel telur yang telah dibuahi oleh sel sperma membelah jadi dua atau lebih, di mana kemudian masing-masing tumbuh sebagai janin, berbagi tempat dalam rahim sang bunda, dengan tali pusar masing-masing yang mensuplai zat makanan dari tubuh bunda ke tubuh-tubuh mungil mereka.

Kami tumbuh sebagai pasangan anak kembar yang ”rasional,” sebagaimana orang lain pada umumnya. Hubungan emosional jarak jauh yang katanya lumrah ada pada anak kembar, kami tidak merasakannya. Kalau dia sakit sedangkan saya sedang sehat, saya tidak lantas jatuh sakit.

Ada kepercayaan orang-orang tua di lingkungan Jawa yang menurut saya menggelikan. Kalau ada kelahiran anak kambar, yang lahir lebih dulu adalah si adik, sedangkan yang lahir kemudian adalah si kakak. Alhamdulillah, ayah dan ibu kami memperlakukan kelahiran anak kembarnya secara ”rasional.” Karena saudara kembar saya lahir lebih dulu, dia adalah si kakak. Sedangkan saya bertindak sebagai adik karena lahir setelahnya.

Kini kami terpisah pada jarak yang cukup jauh. Kami bersekolah di sekolah yang sama di SMP dan SMA. Dia kuliah di Surabaya dan bekerja di Bandung, sedangkan saya kuliah dan kemudian bekerja di seputar Jakarta. Rasa syukur kami semakin bertambah ketika kami menyadari bahwa kami terlahir sebagai kembar normal. Saya merasakan kesedihan ketika membaca atau menonton siaran berita yang mewartakan sepasang bayi terlahir sebagai kembar siam.

Saya akan sangat bahagia ketika aku menjumpai seseorang yang terkejut ketika mengetahui bahwa saya mempunyai saudara kembar, kemudian di wajahnya terpampang rasa takjub dan di lisannya meluncur lantunan pujian kepada Allah. Ya, bukankah fenomena anak kembar adalah fenomena kasat mata yang merupakan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya yang diperlihatkan kepada kita?

Juli 2007


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: