Posted by: Salim Darmadi | 21 December 2022

Catatan Pejuang PhD: Perjalanan Paruh Pertama (2019-2020)

Time flies. Demikian yang saya rasakan dalam perjalanan sebagai pejuang PhD yang telah memasuki tahun pamungkas ini. Ya, tahu-tahu saya sudah hampir tiba di garis finish studi PhD ini. Saya jadi ingat, dulu saya sempat berencana mengunggah tulisan secara berkala untuk mengisahkan perjalanan studi doktoral saya, sebagai refleksi atas apa yang telah dicapai dan siapa tahu dapat memberikan informasi dan motivasi bagi kawan-kawan di luar sana. Namun apa daya, di tengah segala keterbatasan, rencana tersebut pun tinggal rencana.

Mudah-mudahan rangkaian tulisan kali ini, yang hendak mengulas kilas balik empat tahun kemarin, tidak terbilang terlambat. Besar harapan saya, catatan saya ini dapat bermanfaat bagi kawan-kawan sesama anak bangsa yang bercita-cita atau berencana melanjutkan studi ke jenjang S-3 di negeri orang. Cerita pejuang PhD yang satu tentu akan berbeda dengan pejuang PhD lainnya. Karena itu, kisah saya ini mungkin lebih relevan untuk mereka yang menekuni disiplin ilmu di bidang bisnis, manajemen, dan ekonomi, terutama di negara-negara yang struktur program PhD-nya mirip dengan Australia.

Agar tidak terlampau panjang, saya membagi kisah saya dalam dua bagian. Tulisan ini (bagian pertama) mengisahkan perjalanan saya di dua tahun pertama studi PhD saya, yaitu tahun 2019 dan 2020. Di tulisan berikutnya (bagian kedua), saya membagikan cerita dan liku-liku yang harus saya lalui di dua tahun terakhir petualangan doktoral ini, yaitu tahun 2021 dan 2022.

Saya tiba di Sydney, Australia, pada Februari 2019 untuk menempuh studi PhD di University of Technology Sydney dengan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Topik penelitian doktoral saya adalah seputar tata kelola perusahaan (corporate governance). Saya pun bergabung dengan kedua supervisor saya yang berbasis di UTS Business School, tepatnya di Accounting Discipline Group (ADG).

Tahun Pertama (2019): Coursework dan Eksplorasi Topik Riset

Di program PhD yang diselenggarakan oleh ADG, UTS Business School, semester pertama merupakan semester coursework. Mahasiswa PhD diwajibkan mengambil empat matakuliah, yaitu Accounting Research and Consulting Skills; Financial Reporting, Capital Markets and Disclosure; Contemporary Issues in Management Accounting Research; dan Current Issues in Corporate Governance and Assurance. Keterangan lebih lanjut tentang program PhD di ADG UTS Business School (termasuk cara mendaftar) dapat dilihat di laman ini.

Di kelas-kelas matakuliah ini, mahasiswa PhD akan satu kelas dengan mahasiswa Bachelor (S-1) program Honours. Sebagai informasi, program Bachelor (S-1) di Australia umumnya tidak mengenal istilah skripsi di semester terakhir, dengan kata lain program S-1 di sini adalah full coursework yang ditempuh dalam waktu tiga tahun. Adapun program Honours adalah program khusus yang ditawarkan kepada sejumlah lulusan S-1 dengan indeks prestasi (Grade Point Average) tertinggi. Program ini ditempuh dalam waktu satu tahun, di mana semester pertama untuk coursework (serta penyusunan proposal riset) dan semester kedua adalah untuk penyusunan Honours thesis.

Coursework di semester pertama ini bisa dibilang sangat padat, dan kita dituntut untuk pandai-pandai mengelola waktu. Kita akan diberikan setumpuk paper untuk dibaca setiap minggunya sebelum kelas dimulai. Belum lagi tugas-tugas yang semuanya bersifat individual (bukan kelompok) seperti ringkasan paper, presentasi paper, menulis esai, menulis proposal penelitian, dan me-review paper. Bukan sekali dua kali saya harus berjibaku di perpustakaan hingga larut malam untuk menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh para profesor yang mengampu matakuliah.

Sebagai mahasiswa PhD, first point of call kita untuk mengkonsultasikan segala hal terkait studi PhD adalah supervisor (khususnya pembimbing pertama atau principal supervisor). Maka di hari-hari pertama di Sydney, saya sudah menjadwalkan bertemu dengan supervisor saya, yang kemudian memberikan sejumlah arahan terkait coursework maupun penelitian saya ke depan. Beliau pun memperkenalkan saya kepada rekan-rekan sejawatnya di ADG. Syukur alhamdulillah, supervisor saya orangnya demikian baik, suportif, kompeten, dan menjalankan tugasnya sebagai supervisor dengan serius dan bertanggung jawab.

Buat saya, semester pertama studi PhD ini demikian berat dan menguras emosi tersebab ujian yang kami sekeluarga alami. Ibu saya sakit lumayan serius dan harus menjalani proses pemulihan berbulan-bulan lamanya. Lalu ayah saya dinyatakan kritis dan kemudian berpulang kepada Penciptanya. Tak lupa oleh saya beratnya menjalani masa-masa berkabung dan rasa kehilangan yang teramat sangat itu. Namun alhamdulillah semuanya terlalui dengan baik, semester pertama juga dapat saya selesaikan dengan gemilang.

Lalu masuk semester kedua, saatnya memfinalkan topik riset yang hendak saya jalani hingga tiga tahun ke depan. Memang ketika menjajaki supervisor dan mendaftar program PhD di kampus ini, saya sudah mempersiapkan sebuah proposal riset. Namun sesuai arahan supervisor, topik riset saya harus berubah total dan saya perlu menemukan ide riset yang baru. Baiklah. Mengeksplorasi dan mendapatkan sebuah ide riset yang menarik dengan tingkat kebaruan (novelty) yang bagus tentu menjadi tugas yang menantang. Rekan-rekan yang menekuni studi PhD di disiplin ilmu akuntansi dan manajemen keuangan, sebagaimana juga di disiplin-disiplin ilmu lainnya, tentu sangat paham akan hal ini.

Saya membaca puluhan paper jurnal ilmiah, menelusuri peraturan demi peraturan di bidang pasar modal di Indonesia, hingga menghubungi kolega sekantor yang sekiranya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Ketika saya melaporkan beberapa peraturan yang berlaku di pasar modal Indonesia, tetiba supervisor saya berseru, “Peraturan satu ini menarik buat risetmu. Setahu saya tidak ada peraturan seperti ini di negara-negara lain!” Itulah “aha moment” itu, dan topik yang disarankan oleh supervisor saya pun menjadi topik riset yang saya geluti hingga kini. Di akhir tahun pertama, setelah menulis sebuah proposal dan menyampaikannya kepada supervisor, saya dinyatakan telah melalui Stage 1 (tahap proposal penelitian).

Di akhir tahun 2019, saya pun mudik ke Tanah Air. Hal yang tidak dapat saya lakukan hingga tiga tahun kemudian tersebab pandemi. Satu setengah bulan di Indonesia saya manfaatkan untuk sowan ibu saya, bersilaturahim dengan keluarga besar, reuni dengan kawan dan sahabat, berkunjung ke kantor dan bertemu dengan atasan dan sejawat, serta melakukan sejumlah pengumpulan data awal untuk penelitian PhD saya.

Tahun Kedua (2020): Cacing-Cacing Zoom dan Mulai Pengumpulan Data

Menginjak semester ketiga, saya mengambil matakuliah terakhir sesuai instruksi supervisor saya, yaitu Advanced Econometrics. Pertemuan pertama matakuliah ini masih dilaksanakan secara tatap muka, namun ini menjadi satu-satunya kesempatan saya bertemu langsung dengan si dosen pengajar. Minggu kedua dan seterusnya, bersamaan dengan Covid-19 yang mulai merebak dan diberlakukannya aneka restrictions di Australia, semua kegiatan belajar pun dipindahkan ke metode online melalui Zoom.

Buat saya Advanced Econometrics itu sendiri sudah merupakan matakuliah yang sangat menantang, meski waktu S-2 dulu saya sudah mempelajari ekonometrika pada level yang lebih dasar. Diperlukan alur logika yang rumit, lengkap dengan rumus-rumus dan “cacing-cacing” yang njelimet. Dan ditambah pula kuliahnya harus secara online! Mau tak mau saya harus mengalokasikan banyak waktu untuk memahami materi matakuliah. Syukurlah, di matakuliah ini saya ada teman sekelas sesama orang Indonesia yang menjadi partner diskusi saya. Nyaris setiap minggu kami janjian diskusi berdua melalui Zoom untuk memastikan materi-materi perkuliahan telah (lumayan) kami kuasai.

Sebenarnya supervisor saya mengingatkan, jangan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk matakuliah Advanced Econometrics. Saya harus memikirkan juga tahap selanjutnya dari penelitian PhD saya. Namun apa daya, matakuliah terakhir ini mau tak mau menuntut saya mengalokasikan banyak waktu setiap minggunya. Kuliah, belajar mandiri untuk memahami semua materi, berdiskusi dengan kawan sekelas tersebut, mengerjakan tugas-tugas segambreng, hingga persiapan untuk mid-exam maupun final exam. Meski hasil mid-exam saya tidak bisa dibilang bagus-bagus amat, alhamdulillah saya memperoleh hasil gemilang di final exam sehingga bisa mendongkrak nilai akhir secara keseluruhan. Bahkan nilai akhir yang saya dapatkan melampaui ekspektasi supervisor saya.

Sepanjang semester ketiga ini, saya berdiskusi juga dengan supervisor saya terkait riset PhD saya, meskipun tidak terlalu sering karena saya masih disibukkan oleh matakuliah di atas. Masih dalam suasana awal pandemi, pertemuan dengan supervisor belum bisa dilakukan secara tatap muka, jadi kami pun berdiskusi melalui Zoom, email, ataupun telepon. Topik utama diskusi di semester ketiga ini adalah format dataset saya. Karena penelitian saya seputar corporate governance perusahaan-perusahaan go public di Indonesia, saya sudah mencicil untuk men-download laporan tahunan emiten-emiten Bursa Efek Indonesia dalam periode 20 tahun terakhir, sehingga ada ribuan dokumen yang saya unduh. Lalu supervisor saya menyarankan agar saya sekalian melakukan hand-collect data secara komprehensif, agar data tersebut dapat dimanfaatkan untuk banyak topik penelitian sekaligus.

Sungguh, saran supervisor saya tersebut teramat sangat brilian. Sebelumnya, saya cuma berpikiran untuk hand-collect variabel-variabel yang memang diperlukan untuk topik penelitian saya. Saya membayangkan supervisor saya berpikiran begini, “Sudah kepalang tanggung harus mengumpulkan banyak data, kenapa dataset-nya tidak sekalian dibikin komprehensif saja? Jadi bisa dipakai juga untuk penelitian-penelitian lanjutan di masa yang akan datang!” Betul juga. Akhirnya saya dan supervisor menyepakati sekitar delapan puluh (!!!) variabel yang akan saya collect dalam dataset saya.

Semester ketiga berakhir (dengan nilai matakuliah Advanced Econometrics yang lumayan serta format dataset yang sudah siap dan menunggu untuk diisi), saya pun masuk semester keempat dengan agenda tunggal: memulai dan melaksanakan collect data.

Satu hal menantang terkait hand-collection tersebut adalah: ia merupakan proses yang memerlukan waktu yang panjang! Ada puluhan variabel dari laporan tahunan emiten yang harus saya input ke dalam dataset. Ini adalah pekerjaan yang sangat repetitif sekaligus monoton. Apabila saya kerjakan seorang diri, pasti akan memerlukan waktu yang lama; sedangkan saya hanya punya dua setengah tahun tersisa di program PhD saya. Oleh karena itu, atas saran supervisor, dalam hand-collection data tersebut saya dibantu oleh beberapa research assistant yang bekerja secara remote dari Tanah Air.

Awal Oktober 2020, tim research assistant ini pun mulai bekerja. Saya meminta mereka untuk menyampaikan progress report seminggu sekali. Jadi setiap minggu, saya menerima progress dari mereka melalui email, lalu saya melakukan pengecekan dalam rangka quality control serta meminta mereka untuk memperbaiki data tertentu apabila ada yang kurang sesuai. Hal ini berlangsung hingga semester berikutnya. Keberadaan para research assistant tersebut sangatlah membantu proses riset saya, namun tentu saya tidak dapat berlepas tangan begitu saya. Saya tetap harus memantau progress tiap-tiap personel di tim saya. Saya tidak bisa membayangkan apabila saya harus melakukan semuanya sendiri, apalagi dengan masifnya hand-collection tersebut. Boleh jadi perlu waktu dua tahun lebih untuk menyelesaikan semuanya sendiri!

Selain agenda-agenda seputar riset PhD saya, di waktu inilah saya akhirnya menemukan kesempatan untuk mentransformasi kehidupan saya seperti yang saya kisahkan di tulisan ini. Di semester keempat ini, saya bertekad untuk menjalankan pola hidup yang lebih sehat. Saya berupaya untuk giat berolahraga (baik lari maupun angkat beban), memperhatikan asupan makanan yang saya konsumsi, dan mengelola stres. Hasilnya pun lumayan terasa dalam waktu yang tidak terlalu lama: Berat badan berkurang, saya merasa semakin sehat dan bugar, mood lebih terjaga karena saya feeling good lebih sering, lebih terlatih mengendalikan nafsu melahap makanan, dan tidak mudah sakit! Alhamdulillah, ini menjadi salah satu takeaway penting yang menjadi oleh-oleh berharga dari episode kehidupan yang saya jalani di Sydney.

[Bersambung ke bagian kedua]


Responses

  1. […] [Sambungan dari bagian pertama] […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: