Posted by: salimdarmadi | 12 August 2012

Kembali ke Perenungan, Kembali ke Keheningan

Seorang musafir, ketika sedang menempuh perjalanan panjang, tentu perlu berhenti sejenak pada beberapa titik perhentian. Pada titik perhentian itulah ia menyegarkan kembali energi yang telah terkuras, serta menambah perbekalan untuk melanjutkan perjalanannya. Pada titik perhentian itu pula, ia dapat mengevaluasi perjalanan yang telah ditempuh dan merencanakan perjalanan selanjutnya. Pelajaran itulah yang dapat saya petik pada masa sekarang ini, masa-masa awal saya melangkahkan kaki di dunia kerja.

Larut dalam pekerjaan dan berhadapan dengan dunia kerja yang serba pragmatis, bisa jadi membuat kita terjebak dalam pragmatisme tidak berdasar. Menghabiskan sebagian besar waktu di tempat pekerjaan, mungkin akan menyebabkan kita kekurangan waktu sekadar untuk menyelami hakikat diri dan kehidupan. Berjibaku dalam keruwetan dan kepadatan lalu lintas kota besar, bukan mustahil akan menumbuhsuburkan egoisme serta menggerus empati dan kepedulian kita. Melihat segala macam gemerlap dunia yang terpampang di depan mata, boleh jadi akan menumpulkan kepekaan dalam diri. Akhirnya, kecenderungan duniawi akan ternomorsatukan.

Kondisi seperti ini tentu rentan terhadap kualitas kemanusiaan dan keimanan kita. Bagaimana tidak, kita dihadapkan pada ritme kehidupan yang begitu cepat, waktu yang terus berlalu tanpa terasa, persaingan yang kian hari kian ketat, serta rutinitas pekerjaan yang membunuh semangat beramal. Akibatnya bisa semakin jauh, kita melangkah begitu saja menurut arus yang ada, tanpa mengetahui pasti ke mana kita menuju dan apa yang sedang kita kejar …

Di tengah segala rutinitas dan kesibukan, perhentian sejenak merupakan hal yang niscaya. Saya yakin, kita benar-benar membutuhkannya, apalagi jika bentuk keseharian kita adalah pergumulan dengan hiruk-pikuk kehidupan kota besar. Ada banyak sarana yang dapat kita lakukan dalam kerangka perhentian sejenak ini. Dengan perhentian sejenak itu, kita merevitalisasi tujuan kita serta menyelami kembali hakikat kehidupan kita, yang telah ditentukan oleh Rabbul ’Izzati untuk mengemban amanah sebagai ’abid (hamba) dan khalifah di muka bumi.

Dari sekian banyak sarana, salah satu yang penting kita lakukan adalah merenung atau berkontemplasi dalam suasana hening. Dalam keheningan itu, kita mengevaluasi segala hal yang telah kita lakukan dan mematangkan perencanaan kita untuk lembar kehidupan berikutnya. Semuanya dalam rangka menata diri kita menuju pribadi dengan kualitas kemanusiaan dan keimanan yang semakin baik dari waktu ke waktu. Tidak lupa, dalam suasana hening itu, kita melantunkan puja-puji dan munajat kepada Sang Penguasa Semesta.

Apakah kita perlu bersusah-payah menemukan tempat dan saat hening? Jawabannya adalah tidak. Orang-orang superkaya menginvestasikan biaya yang begitu besar hanya untuk mengunjungi tempat-tempat di mana mereka dapat merasakan keheningan dan menemukan relung cerah dalam diri. Bagi kita, tentu tidak perlu sedemikian. Banyak sekali kesempatan yang dapat kita manfaatkan: pada pagi hari selepas shubuh, petang hari menjelang maghrib, ketika kembali ke kampung halaman, ketika berada dalam perjalanan panjang, atau ketika ber-tafakkur dalam satu perjalanan rihlah, dan tentu saja pada sepertiga malam terakhir. Atau pada waktu-waktu atau tempat-tempat khusus yang lain, tanpa perlu mengeluarkan biaya mahal.

Tahukah kita, renungan mendalam dan berkualitas dari orang-orang besar menjadi perantara petunjuk Allah hingga lahirlah torehan prestasi sejarah yang luar biasa? Ibrahim ’alaihis salam akhirnya mendapatkan petunjuk mengenai Tuhan yang sebenarnya setelah merenungkan dan mengamati alam semesta. Pada usia matangnya, Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam memutuskan untuk menyendiri di Gua Hira’, merenungkan kondisi zaman dan masyarakatnya.

Karena itu, di tengah segala aktivitas dan kesibukan, mari kita sempatkan untuk merenung dalam suasana hening. Dengan bekal keimanan, insya Allah upaya itu akan memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas diri kita. Tentu bukan untuk berlama-lama larut menikmati keheningan, karena agama ini tidak mengajarkan tindakan memisahkan diri dari kehidupan sosial dan perkembangan zaman, meskipun di luar sana ada banyak sekali hal yang berpotensi membawa akibat buruk bagi kualitas keimanan kita. Perenungan itu lebih sebagai sarana menambah kembali bekal untuk melanjutkan perjalanan kehidupan, menuju puncak prestasi seorang mu’min: takwa dalam arti sebenar-benar takwa.

(Juni 2007)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: