Posted by: salimdarmadi | 30 May 2018

[Pengalaman Seleksi Beasiswa LPDP] Seleksi Administrasi

Akhirnya LPDP merilis pengumuman program beasiswa magister dan doktoral tahun 2018 (lihat laman ini), pengumuman yang sejak awal tahun ini dinantikan oleh para pemburu beasiswa.

Saya mengikuti seleksi beasiswa LPDP tahun 2017. Sama dengan tahun lalu, program beasiswa tahun ini hanya dibuka dua kali: untuk tujuan dalam negeri dan luar negeri. Namun, format seleksi beasiswa tahun 2018 kembali diperbarui (format seleksi tahun 2017 pun sudah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena ada ujian psikotes melalui online assessment). Tahun ini, ada seleksi administrasi, seleksi berbasis komputer, dan seleksi substansi.

Di seleksi berbasis komputer, akan ada Tes Potensi Akademik, Soft Kompetensi, dan On-the-Spot Writing; sedangkan di seleksi substansi ada verifikasi dokumen, Leaderless Group Discussion, dan wawancara.

Ini format baru karena on-the-spot writing tahun lalu masih menjadi bagian dari seleksi substansi. Kalau tahun 2017 ada ujian psikotes online assessment, maka tahun ini ada TPA dan soft kompetensi.

Di samping itu, ada sejumlah syarat yang membuat seleksi beasiswa LPDP tahun 2018 terlihat lebih “menantang” dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perguruan tinggi yang boleh dipilih sekarang semakin selektif. Calon penerima beasiswa juga benar-benar dibatasi jika mau memilih perguruan tinggi yang berbeda dengan pilihan awal ketika mendaftar.

Kali ini saya hendak berbagi tips dan pengalaman saya ketika mengikuti seleksi administrasi beasiswa LPDP tahun 2017, yang saya yakin masih cukup relevan untuk teman-teman yang mempersiapkan diri mengikuti seleksi serupa tahun ini.

1. Pupuk portofolio sejak jauh-jauh hari dan pastikan memenuhi syarat yang ditetapkan

Dalam berbagai kesempatan berinteraksi dengan mahasiswa maupun pegawai muda di kantor, saya sering mengingatkan agar mereka rajin-rajin memupuk portofolio jika ingin memenangkan beasiswa di masa depan. Menurut saya, setidaknya ada empat aspek yang perlu dimiliki oleh seorang pemburu beasiswa: (1) prestasi akademis yang unggul; (2) penguasaan bahasa asing yang memadai; (3) pengalaman berorganisasi dan kontribusi di kegiatan komunitas/sukarelawan; dan (4) portofolio tambahan seperti prestasi, penghargaan, publikasi karya tulis, dsb.

Ketika saat berburu beasiswa sudah tiba, pastikan kita memenuhi persyaratan yang diminta oleh pemberi beasiswa. Syarat yang diminta tentu berbeda-beda antara pemberi beasiswa yang satu dengan yang lain. Untuk LPDP, syarat yang diminta di antaranya terkait umur, Indeks Prestasi Kumulatif, dan penguasaan bahasa asing.

Mungkin ada yang bertanya: Bagaimana jika saya tidak memenuhi syarat terkait umur, IPK, dan penguasaan bahasa asing? Memang sebaiknya teman-teman mencari peruntungan beasiswa lain yang persyaratannya bisa dipenuhi. Namun jika kalian memiliki suatu prestasi dan keunggulan yang istimewa dan layak “dijual”, menurut saya tidak ada salahnya dicoba. Siapa tahu LPDP akan memberikan pertimbangan tersendiri.

2. Persiapkan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan

Langkah selanjutnya adalah melengkapi dokumen-dokumen yang dipersyaratkan, dan mempersiapkan versi scanned dari dokumen-dokumen tersebut. Alokasikan waktu yang cukup karena memang perlu waktu ekstra untuk melengkapi semuanya. Adapun dokumen yang harus dipersiapkan setidaknya meliputi sebagai berikut:

  • Surat keterangan sehat, bebas narkoba, dan bebas TBC dari dokter Rumah Sakit Pemerintah. Dulu saya mengurus surat keterangan ini di Griya Husada RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan. Para petugas di sana sudah biasa melayani para pendaftar beasiswa LPDP.
  • Surat rekomendasi sesuai format LPDP, dari atasan (jika sudah bekerja) dan tokoh masyarakat (jika belum bekerja). Format bisa dilihat di “Panduan Pendaftaran Beasiswa LPDP 2018”. Saya meminta rekomendasi dari Kepala Departemen (pejabat eselon I/b) saya. Waktu itu saya membuatkan draft awalnya, kemudian beliau memberikan penilaian pada tabel penilaian karakter (dengan checklist) dan kemudian menandatanganinya.
  • Surat pernyataan sesuai format LPDP. Format bisa dilihat di “Panduan Pendaftaran Beasiswa LPDP 2018”.
  • Surat izin dari unit yang menangani SDM atau Kepegawaian untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP (khusus PNS/TNI/Polri). Meskipun saya bukan PNS, saya tetap melampirkan surat izin dari Departemen Organisasi dan SDM kantor saya.
  • Kartu Tanda Penduduk.
  • Ijazah dan transkrip jenjang pendidikan terakhir. Karena saya mendaftar beasiswa doktoral, saya mengunggah ijazah dan transkrip S-2 saya dari The University of Queensland. IPK di Australia menggunakan skala 7, jadi saya menyediakan konversinya juga ke skala 4, sesuai petunjuk yang ada di manual pendaftaran online.
  • Dokumen penguasaan bahasa Inggris. Saya mengambil tes IELTS di IALF Jakarta pada akhir Maret 2017 dan hasilnya bisa diambil dua minggu kemudian. Alhamdulillah hasilnya lumayan bagus (7,5), meskipun jeblok di speaking karena ketika ditanya “What is your favourite weather?”, saya malah menjawab dengan mantap, “Summer!” Hahaha…
  • Letter of Acceptance (LoA), jika sudah ada. LoA ini sifatnya tidak wajib, namun kalau sudah ada tentu akan menjadi keunggulan tersendiri. Ketika mendaftar LPDP tahun lalu, saya belum punya LoA. Namun saya cantumkan bahwa saya sudah memperoleh support dari seorang profesor di salah satu universitas di Inggris.

Selain dokumen, di formulir pendaftaran online juga ada kolom untuk meletakkan tulisan-tulisan sebagai berikut:

  • Rencana studi program magister (untuk pendaftar S-2). Contohnya bisa langsung di-googling saja ya, berhubung saya tidak punya pengalaman. Sejauh yang saya amati, rencana studi biasanya mencakup antara lain profil program studi dan universitas serta alasan kita memilih program studi dan universitas tersebut, kemudian struktur program (daftar matakuliah), durasi program, dan biaya program (tuition fee).
  • Ringkasan proposal penelitian (untuk pendaftar S-3). Saya membuat ringkasan proposal yang cukup komprehensif (7 halaman dengan spasi 1,5) dalam bahasa Inggris dengan sistematika sebagai berikut: background, statement of problems, rationale and significance, hypothesis development, methods and design, dan references. Tips proposal penelitian (khususnya untuk disiplin ilmu ekonomi dan bisnis) insyaallah akan saya bagi di kesempatan lain.
  • Statement of Purpose (paling banyak 1.000 kata yang menjelaskan rencana kontribusi yang telah, sedang, dan akan dilakukan untuk masyarakat, lembaga, instansi, profesi, atau komunitas). Ini kurang lebih sama dengan esai berjudul “Kontribusiku untuk Indonesia” di tahun-tahun sebelumnya. Adapun esai “Sukses Terbesar dalam Hidupku” sudah tidak diminta tahun ini. Esai yang saya tulis ketika melamar beasiswa LPDP, serta tips menulis Statement of Purpose, ada di tulisan ini.

3. Jangan mengisi formulir dan submit pendaftaran mepet deadline

Akan jauh lebih baik jika kita memulai pendaftaran online, kemudian mengisi formulir online dan mengunggah dokumen-dokumen yang dipersyaratkan, jauh-jauh hari sebelum deadline. Tahun lalu saya men-submit pendaftaran sekitar dua hari sebelum deadline. Saya menyelesaikannya pada dinihari sehingga relatif tidak ada hambatan akses.

Men-submit pendaftaran mepet deadline cenderung berisiko, terlebih dengan melonjaknya akses ke akun LPDP di menit-menit terakhir. Tahun lalu, deadline pendaftaran  diperpanjang seminggu. Barangkali ini dilatarbelakangi oleh keluhan sebagian pelamar yang mengalami kesulitan akses di menit-menit terakhir karena padatnya traffic.

4. Isi formulir selengkap-lengkapnya dan sebenar-benarnya

Mengisi formulir pendaftaran online LPDP memerlukan waktu ekstra, karena ada banyak isian yang harus dilengkapi, meliputi: data pribadi dan keluarga, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, pengalaman organisasi, prestasi, bahasa, pengalaman pelatihan/workshop, pengalaman riset, karya ilmiah, konferensi dan seminar, penghargaan, rencana studi/proposal penelitian, dan Statement of Purpose 1.000 kata.

Saya menyarankan agar pelamar beasiswa LPDP mengisi formulir ini dengan selengkap-lengkapnya dan sebenar-benarnya. Misalnya, jika kalian memiliki pengalaman kepanitiaan dan seminar, diisikan saja sesuai kondisi sebenarnya meskipun mungkin kalian tidak memiliki dokumen bukti.

Jika nanti lolos hingga seleksi substansi, yang akan diperiksa di verifikasi dokumen hanya dokumen-dokumen yang diunggah waktu mengisi pendaftaran online. Sedangkan dokumen-dokumen pendukung lainnya ada baiknya dibawa sewaktu wawancara sekadar untuk antisipasi dan memperkuat apa yang telah kita tuliskan dalam formulir.

5. Tunjukkan sisi positif dan keunggulanmu

Pelamar beasiswa LPDP mencapai puluhan ribu orang tiap tahunnya. Untuk membuat diri kita “dilirik” oleh penyeleksi, kita harus tidak segan menunjukkan sisi-sisi positif dan keunggulan kita. Misalnya dengan mencantumkan selengkap-lengkapnya pengalaman organisasi dan prestasi kita, termasuk pengalaman terbaik dan prestasi tertinggi yang pernah kita raih. Dalam kasus saya, saya tidak lupa mencantumkan semua prestasi yang pernah saya peroleh. Dari prestasi zaman SMA hingga ketika sudah bekerja. Dari prestasi level kampus hingga level internasional.

Keunggulan juga bisa kita tunjukkan melalui esai atau Statement of Purpose. Kita uraikan apa saja kontribusi yang telah dan sedang kita lakukan, serta rencana kita ke depan. Tentu di sini diperlukan seni tersendiri, karena kita ingin tampak percaya diri menceritakan pengalaman serta terlihat visioner menetapkan sasaran di masa depan tanpa terkesan sombong, membual, atau berangan-angan semata.

6. Pikirkan perguruan tinggi tujuan baik-baik

Dalam pembukaan program beasiswa LPDP tahun 2018 ini, tidak ada opsi pindah perguruan tinggi setelah submit dokumen dan lulus seleksi LPDP. Karena itu, perguruan tinggi pilihan perlu dipikirkan matang-matang sejak awal. Sepertinya pindah perguruan tinggi baru bisa dilakukan seandainya kita tidak diterima oleh perguruan tinggi awal yang kita pilih.

Sebagai informasi, pertanyaan yang hampir pasti ditanyakan oleh pewawancara di seleksi substansi nanti adalah, “Mengapa Anda memilih perguruan tinggi X? Mengapa Anda memilih negara Y untuk studi?” Hal ini tentu perlu dipikirkan sejak awal.

Untuk pelamar beasiswa S-3 luar negeri, akan sangat mendukung sendainya kita sudah mengantongi nama profesor yang bersedia membimbing penelitian kita, meskipun kita belum mendapatkan LoA dari universitas yang bersangkutan. Karena biasanya untuk studi PhD, ketersediaan profesor yang bersedia membimbing harus dipastikan terlebih dahulu sebelum mengajukan aplikasi ke universitas.

***

Demikian beberapa tips dari pengalaman saya mengikuti seleksi administrasi beasiswa reguler LPDP tahun lalu. Semuanya memang perlu dipersiapkan dengan baik. Memang seleksi tahun ini lebih menantang dari segi persyaratan dan ketentuannya. Namun dengan persiapan yang matang dan juga doa yang maksimal, insyaallah teman-teman akan menjadi salah satu dari 4.000 orang calon penerima beasiswa magister dan doktoral LPDP tahun 2018. Semangat dan sukses!

 

[Gambar diambil dari sini]


Responses

  1. cucok

  2. Terimakasih tips nya pak salim,
    Ijin bertanya nggih pak, apakah di jakarta ada bimbingan belajar yang dapat membantu calon awarde lpdp untuk meraih beasiswa lpdp?

    • Sama-sama, Hanif. Soal bimbingan belajar seleksi LPDP, setahuku gak ada ya. Tapi kalau di-googling banyak banget pelamar maupun awardee LPDP yang menceritakan pengalaman/tips mereka di blog masing-masing. Menurutku pengalaman/tips dari mereka sudah memadai banget jadi referensi.
      Semangat & selamat bersiap ya, utk tujuan luar negeri pendaftaran dibuka bulan depan tuh 🙂

  3. […] yang telah saya uraikan di artikel sebelumnya, tulisan esai yang harus disiapkan oleh pelamar beasiswa LPDP tahun 2018 adalah berupa Statement […]

  4. […] dinyatakan lulus seleksi administrasi (baca tulisan saya tentang seleksi administrasi di sini dan di sini), maka langkah selanjutnya adalah bersiap-siap untuk mengikuti seleksi berbasis […]

  5. kak mau nanya, nanti kita dikasih pilihan universitasnya atau sesuai yg kita inginkan? kalau sesuai yang kita inginkan, boleh tidak kita memilih lebih dari 1 negara? dan misal kita memilih univ di negara amerika serikat, apakah ada pengaruh peluang lulus kita saat memilih univ di amerika daripada di jepang? kak, boleh minta email kakak ga, untuk nanya2 lebih lanjut mengenai lpdp ini?

    • Kak Rieke, waktu mengisi aplikasi online LPDP, seingat saya kita cuma diberi pilihan 1 universitasnya. Setahu saya juga negara tujuan studi tidak berpengaruh, karena yang dinilai adalah kapasitas dan kualifikasi kita. Monggo seandainya mau berkorespondensi dengan saya via email. Alamat email ada di page “Tentang Saya” ya… Sukses selalu, Kak Rieke…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: