Posted by: Salim Darmadi | 17 June 2020

Nikmat yang Hilang, Nikmat yang Kembali

Ketika mendengar kabar bahwa pelonggaran lockdown di Sydney akan mencakup dibukanya kembali tempat-tempat ibadah, saya berjanji kepada diri sendiri untuk mensyukuri dan memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya. Setelah sebelas pekan absen Jumatan, akhirnya tiba juga saat yang ditunggu itu. Saya berangkat ke masjid satu jam sebelum khutbah Jumat dimulai. Begitu memasuki area masjid, saya edarkan pandangan mata ke sekeliling, menikmati setiap sudut dan detailnya. Saya mengambil tempat di depan, melewatkan waktu tunggu dengan zikir, tilawah, dan menyapa jamaah. Saya simak baik-baik uraian khatib dari awal hingga akhir.


Pun demikian ketika akhirnya saya bisa keluar rumah untuk tujuan rekreasional, setelah nyaris tiga bulan saya bepergian hanya untuk keperluan esensial. Di satu hari cerah di awal musim dingin, saya singgah di sebuah taman umum. Membiarkan sinar mentari hangat menyentuh kulit. Menikmati dedaunan pohon maple berganti warna. Saya juga singgah di sebuah restoran, lagi-lagi pertama kalinya dine-in dalam tiga bulan terakhir. Saya menikmati betul suasana rumah makan itu. Santapan yang terhidang di meja di depan saya pun terasa lezat luar biasa, tandas dalam waktu singkat.

Masih segar di ingatan saya segala kenikmatan dan kebebasan yang saya reguk hingga tiga bulan sebelumnya. Sebelum nikmat itu dicabut. Saya bisa memilih Jumatan di mana saja tanpa kuatir perkara physical distancing. Saya bisa makan siang bareng teman-teman sambil haha-hihi di foodcourt kampus tanpa perlu pusing soal protokol ini-itu. Saya bisa bertemu tatap muka dengan profesor pembimbing saya dan sesama mahasiswa doktoral. Saya masih bisa terbang sliwar-sliwer Australia-Indonesia tanpa mumet tentang tes covid, surat jalan, dan karantina. Bisa mudik ke Kediri mengunjungi Ibuk dan sanak-saudara. Reunian dan ngupi-ngupi ganteng dengan kawan-kawan lama. Menengok kantor dan bertukar kabar dengan para atasan dan kolega. Memanjakan lidah dengan wisata kuliner di sini dan di sana. Dan seterusnya.

Tetiba semua kenikmatan di atas hilang begitu saja. Dan puncaknya adalah ketika Ramadhan dan Idulfitri lalu. “It was indeed a Ramadan like no other, and an Eid like no other”. Ramadhan dan Idulfitri yang demikian berbeda, dilalui dengan menghabiskan sebagian besar waktu di rumah saja. Belajar di rumah, bekerja di rumah. Sebuah ritme baru yang membuat banyak orang mau tak mau beradaptasi sedemikian rupa. Juga beribadah di rumah. Tidak terkecuali shalat tarawih dan shalat ‘Id. Sungguh satu hal yang terasa asing dan aneh, sama sekali tak terbayang sebelumnya.

Melewati semua itu, saya tersadar betapa kurang bersyukurnya saya selama ini. Semua nikmat dan kebebasan yang saya rengkuh terasa taken for granted adanya. Saya lupa mensyukuri, lupa mengapresiasi momen, lupa menyadari alangkah beruntungnya saya. Dari mulut saya mungkin memang sering terluncur lafal hamdalah, yang kemudian saya sadari bahwa ucapan itu sering cuma jadi abang-abang lambe thok.

Ketika perlahan-lahan Tuhan menghadirkan kembali nikmat yang sempat menghilang (meski situasinya untuk saat ini tak lagi sama), saya mengingatkan diri sendiri untuk bersyukur sebenar-benar syukur dan tidak take things for granted begitu saja. Bahkan ketika bisa bangun pagi dalam keadaan badan sehat dan pikiran waras pun, saya sudah punya alasan yang kuat untuk merenung dalam-dalam, mengapresiasi momen, dan berucap syukur.

Toh dalam gelap sekalipun, tetap ada setumpuk pelajaran positif yang bisa saya ambil. Banyak orang memang terjebak dan terkurung di dalam rumah selama berminggu-minggu. Namun, ada bonding yang semakin kuat dengan anggota keluarga. Ada pencapaian target-target ibadah Ramadhan yang terasa lebih mudah. Ada produktivitas yang terjaga sehingga berbagai pekerjaan bisa terselesaikan. Tak kalah penting, ada kepedulian sosial yang semakin terasah serta tergeraknya hati untuk lebih banyak membantu sesama. Dan masih banyak lagi.

Kapan kae saya pernah baca kalimat begini, “We are in the same storm, but not in the same boat”. Terasa benar adanya. Beda orang beda bondisi. Pun beda tempat beda situasi. Di Negeri Kanguru di mana saya berpijak kini, pagebluk sudah relatif terkendali, dengan kurva kasus positif yang telah melandai dan community transmission yang nyaris tak ada lagi. Di Selandia Baru yang hanya berjarak tiga jam penerbangan dari Sydney, hampir seluruh pembatasan telah dicabut. Orang sudah bebas nggrombol dan duduk berdekatan. Secara legal. Tanpa dihantui kekhawatiran.

Namun saya tahu, ada negara-negara yang masih berjibaku menaklukkan wabah beserta segala dampak yang menyertainya. Termasuk Tanah Air tercinta. Dari negeri orang, saya setia memantau kabar demi kabar dari negeri kelahiran. Karena di sanalah Ibuk, sanak kerabat, dan mayoritas handai tolan saya tinggal. Karena ke sanalah saya akan kembali pulang selepas misi di negara orang ini saya tuntaskan.

Dihadapkan pada keprihatinan serta tantangan yang masih terasa berat di negeri sendiri, saya mengingatkan diri agar harapan saya tetap terjaga. Agar lilin saya tetap menyala. Agar doa-doa saya tidak berhenti mengetuk pintu-Nya. Kiranya petunjuk dan jalan keluar dilimpahkan-Nya untuk negeri saya; untuk sekalian rakyatnya, seluruh tenaga kesehatannya, segenap penyelenggara negara dan pemangku kewenangannya…

 

Gambar: Menikmati sinar mentari di awal musim dingin 2020 di Centennial Parklands, Sydney.


Responses

  1. sehat terus nang kono yo mas


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: