Posted by: salimdarmadi | 7 October 2019

Mengapresiasi Momen

Sydney mulai menghangat dua minggu terakhir, menandai datangnya musim semi. Sekaligus mengakhiri periode musim dingin, berikut pembuka dan penutupnya, yang berlangsung empat bulan dari pertengahan Mei sampai pertengahan September. Saya teringat waktu pertama kalinya keluar rumah tanpa harus pakai jaket tebal. Rasane jian enteng tenan. Saya biarkan sinar matahari menyentuh kulit lengan saya yang biasanya tertutup, apalagi sepanjang jalan bunga-bunga mulai bermekaran warna-warni. Heaven!

Semoga saya ndak kedengeran ngresulo yo, Lur, apalagi winter di Sydney itu jauh lebih mendingan dibandingkan di sejumlah tempat lain. Ada seorang profesor baru di kampus saya yang baru pindah dari Essex, Inggris, bilang, “Winter here is like summer in the UK!” Meski demikian, saya ini orangnya ncen tropis tenan. Beradaptasi dengan winter itu PR banget buat saya. Bangun tidur sentrap-sentrup irung mampet, njuk nek ngupil entuk harta karun okeh banget (hehehe, ngapunten rodo nggilani!). Jaket tebal jelas wajib dipakai kalau keluar. Semester pertama ketika saya LDR-an sama Ratri untuk sementara, saya belajar di perpustakaan sampai hampir tengah malam karena mesti ora kuat nek harus nglembur di kos-kosan. Tidur pun saya memakai jaket tebal plus kemul rangkep, ditambah thermal sheet.

Pelajaran penting yang saya dapat: appreciate the moment! Di saat musim semi seperti sekarang ini, saya bisa menikmati udara hangat, membiarkan angin bertiup dari balkon, melihat bunga-bunga mekar, mengandangkan outfit winter, dan seterusnya. Namun, di musim dingin pun, saya juga berusaha menikmati. Gak diganggu aneka binatang kecil yang tiba-tiba semangat keluar dari sarangnya begitu winter berlalu. Bisa mengembus-embuskan napas sehingga keluar uap dari mulut koyo’ neng filem-filem kae, hehehe. Last but certainly not least, puasa Ramadhan di musim dingin durasinya gak sampe 12 jam. Jam limo isuk sahur, jam limo sore wis madang meneh, hehehe. Alhamdulillah.

Pelajaran bab mengapresiasi momen itu juga saya dapatkan ketika saya dan Ratri harus berjibaku dengan domestic chores alias pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Di Tanah Air tentu kami juga melakukan domestic chores, namun dengan intensitas yang jauh lebih rendah karena sebagian besar kami delegasikan ke Mbak ART. Jujur wis, sebelum terbang ke Sydney, saya ndak bisa mengingat kapan terakhir kali saya nyapu atau cuci baju. Di negara orang ini, tentu keseharian yang saya dan Ratri jalani jauh berbeda. Hari-hari diwarnai oleh aktivitas semacam korah-korah, nyapu lantai, masak, ngentasi pemeyan, nglempiti klambi, dan seterusnya.

Sungguh saya semakin mengapresiasi keberadaan ART di kediaman kami di Depok sana. Dengan support dia, kami tinggal instruksi ini-itu dan apa-apa njuk cumepak rapi. Ada pelajaran berharga bahwa saya harus memperlakukan ART dengan manusiawi dan welas asih, ora kereng-kereng nek nyeneni perkoro sepele, dan seterusnya. Namun, tanpa ART di Sydney pun, ada segudang pelajaran juga yang kami peroleh, mulai dari manajemen waktu, saling bantu antara suami-istri, dan banyak lagi. Intine berusaha “living life to the fullest”. Beda negara, beda pula corak kehidupan yang dijalani. Nek ra dinikmati yo isine bakal gembreneng ra uwis-uwis. Yo ra?

Saya teringat juga ketika saya sendirian di rumah, beberapa hari ditinggal Ratri dinas ke luar kota atau ke luar negeri. Pulang dari kantor tenguk-tenguk dewe koyo’ wong gabut. Saya jadi semakin menghargai “izin” yang diberikan Ratri ketika saya ada acara-acara (tanpa mengajak dia) di akhir pekan atau hari kerja after-hours. Saya pernah hadir di sebuah seminar pernikahan dan pembicaranya bilang, para suami itu kalau sendirian keluar rumah koyo’ sik joko. Pecicilan menclok sana-sini. Somehow I can relate, hahaha.

Alhamdulillah, saya tidak kesulitan mendapat “izin” Ratri untuk keluar rumah sendirian, tentu selama itu positif. Entah untuk meet-up, pengajian, rapat atau seminar ini-itu, ataupun memenuhi permintaan kopdar. “Yah, risiko punya suami sosialita”, kata dia. Hahaha. Saya tentu juga harus menjaga baik-baik kepercayaan dia. Ketika saya nyampe rumah, kadang dia sudah mengarungi dunia mimpinya. Saya cium keningnya dan saya ucapkan, “Makasih ya, Nduk!” Sungguh tanpanya saya bagaikan sego kucing ilang karete. Ambyar… *gombalanlawas

Mengapresiasi momen semakin terasa pentingnya untuk hal-hal yang kita tahu tak akan terulang lagi nanti. Dari pengalaman saya, misalnya, kenangan yang saya lalui bersama almarhum Bapak (rahimahullah) jelas tak mungkin terulang. Saya bersyukur, ketika Bapak masih ada, saya selalu bisa pulang kampung tiga-empat kali setahun dan berkirim kabar secara rutin. Meski tentu rasanya masih kurang banget. Setelah Bapak berpulang, sekitar dua bulan saya rasanya susah muv-on. Mengutip teman saya yang lebih dulu ditinggal ayahnya, “Felt like the world’s colliding.” Seiring berlalunya waktu, rasa duka pun berangsur sirna. Saya berusaha ambil banyak-banyak hikmah: saya harus semakin kuat, menjadi seorang laki-laki yang berdiri sendiri tanpa bayang-bayang Bapak, dan melanjutkan bakti saya dengan terus mensalehkan diri dan melantunkan doa-doa untuk beliau.

Tenan yo, menungso ki ncen gampang ngresulo karo gembreneng. Padahal sakjane karunia dan nikmat dari Gusti Kang Murbeng Dumadi gak entek-entek. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Teringat lagi dawuh Bapak dan Ibuk, “Syukur yo, Le. Disyukuri paringane Gusti Allah…”

Gambar: Floriade 2019 di Canberra, Australia (dok. pribadi)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: