Posted by: salimdarmadi | 24 May 2018

Ketika Sepakat untuk Tidak Sepakat

group_discussionsSesekali, di ruangan kantor saya muncul diskusi-diskusi sporadis membahas berbagai perkembangan terkini, termasuk isu-isu politik yang sedang hot, juga isu-isu terkait agama dan hubungan antarumat beragama. Siapa saja boleh ikut dan urun rembuk. Kami para peserta diskusi juga berasal dari beragam latar belakang, baik dari segi suku, keyakinan, maupun pandangan politik. Saya menyebutnya “ILC ala-ala“.

Diskusi bisa berlangsung seru dan gayeng, dan sesekali meledak gelak tawa yang riuh. Jelas sekali bahwa pendapat kami berbeda-beda. Ada polarisasi pandangan politik di antara kami, sebagaimana terjadi di masyarakat negeri ini. Namun itu tidak membuat kami saling serang dan saling benci sehingga membuyarkan ikatan perkawanan yang telah lama terjalin.

Saya jadi ingat salah satu kalimat di pidato Hillary Clinton tatkala ia mengakui kekalahan dari Donald Trump pasca-pemilu AS di akhir tahun 2016, “We have seen that our nation is more deeply divided than we thought.” Rasanya kalimat itu juga tepat menggambarkan kondisi bangsa kita yang terbelah karena aspirasi politik. Berawal dari tahun 2014, kemudian tahun 2016-2017, dan kini jelang tahun politik 2019.

Di media sosial mudah sekali terlihat pemandangan yang “keruh”. Hati terasa sempit dan emosi ingin meluap-luap ketika membaca statement berbeda pandangan (terlebih yang bernada provokatif) dari kubu seberang. Kemudian keberagaman pendapat itu lantas mewujud jadi ring tinju di mana masing-masing pihak mengeluarkan pukulan-pukulan terbaik dan membela idenya masing-masing dengan segala cara. Debat berkepanjangan tak keruan, gontok-gontokan tanpa peduli etika dan aturan, saling memaki dan menjatuhkan karena tak rela keunggulan dan kemenangan ada di pihak lawan.

Sebagai profesional sektor publik, tentu saya dituntut untuk bersikap “netral” serta bersikap bijak dalam mengemukakan aspirasi politik melalui media sosial dan domain publik. Namun secara personal, dalam banyak hal saya tak bisa bersikap netral begitu saja. Saya tetap punya pandangan yang firm, apalagi beberapa isu yang menjadi sumber polemik terkadang juga menyentuh aspek-aspek yang prinsipil buat saya.

Namun di saat yang sama, saya harus siap untuk bersikap dewasa dan matang di alam demokrasi. Dalam demokrasi, berbeda pendapat seharusnya menjadi satu hal yang amat biasa. Demokrasi juga menyediakan sarana kontestasi yang legal-konstitusional atas aneka pendapat dan kepentingan di tengah masyarakat, tentu sepanjang tidak bertentangan dengan konstitusi dan hukum positif yang berlaku. Pada akhirnya, siapa yang menang ditentukan oleh suara masyarakat di balik bilik TPS serta dinamika politik setelahnya.

Karena itu, saya menikmati diskusi bersama kawan dan kerabat mengenai banyak hal. Boleh jadi kami tidak bersepakat dalam banyak aspek semacam preferensi parpol, tokoh politik, sosok junjungan, ataupun pandangan terkait berbagai polemik yang datang silih-berganti. Namun saya memanfaatkan diskusi itu untuk bertukar pikiran. Saya bisa menyampaikan ide saya dan berusaha meluruskan jalan pikir mereka yang saya rasa kurang tepat. Pun saya bisa menggali latar belakang pemikiran mereka. Diskusi berlangsung egaliter dan seru. Tidak perlu ada debat kusir. Yang saya tahu, tidak ada pula di antara kami yang saling mengusik atau mengomentari ajaran agama lain (yang jelas-jelas tidak pantas alias ora ilok). Ada kalanya kami saling ingin tahu soal ajaran agama lain, dan itu kami tanyakan kepada si empunya agama untuk sekadar mencari jawab atas keingintahuan kami.

Dalam hal-hal yang berbeda, kami menyebutnya “sepakat untuk tidak sepakat”. Cukuplah bagi kami menyampaikan pandangan kami dan mendengar pandangan lawan bicara. Berlanjut jadi perdebatan? Tentu tidak, karena kami tahu itu akan sia-sia dan tak ada guna. Lha wong dari sononya sudah beda, mau diapain lagi? Bahkan di tengah diskusi seru itu, saya menemukan bahwa kami masih punya kesamaan dalam memandang perjalanan bangsa ke depan.

Kami ingin negeri ini menjadi rumah yang aman dan nyaman untuk semua. Konsensus yang telah lama dipegang sejak masa para pendiri bangsa, seperti dasar negara, konstitusi, dan NKRI, tentu tidak untuk ditawar-tawar lagi. Kami ingin melihat keadilan ditegakkan dengan sebenar-benarnya. Dan seterusnya…

Pernah saya mengobrol hingga lewat tengah malam dengan dua orang kawan yang bermalam di tempat saya. Yang satu seorang teolog asal Nusa Tenggara Timur (saya menyebutnya “calon pendeta”), satu lagi seorang profesional muda Jakarta keturunan Tionghoa. Kami jelas berbeda secara suku dan agama. Pandangan politik pun kemungkinan berbeda. Namun dari obrolan panjang dan menyenangkan itu saya dapati, ada banyak nilai dan cita-cita yang sama dan kami junjung tinggi sebagai anak bangsa.

Apalagi di dunia nyata, sebenarnya keadaan di sekeliling saya tidak seriuh dan semengerikan situasi di dunia maya. Saya punya kerabat dan sahabat; harta saya yang berharga di dunia nyata. Apakah karena perbedaan pandangan politik, saya rela memutus hubungan yang telah lama terjalin? Tentu tidak. Saya bertemu dengan kerabat tidak terlalu sering. Ketika kami bertemu, tentu ada jauh lebih banyak topik yang lebih “worth it” diperbincangkan ketimbang ngomongin politik dan preferensi politik kami yang tak sama.

Demikian juga dengan pertemanan. Rasanya sungguh tak masuk akal jika hubungan pertemanan menjadi buyar hanya gegara beda pilihan politik atau karena masing-masing tidak bisa mengendalikan kicauannya di media sosial.

Tanpa bermaksud tinggi hati, lihat saja saya dan rekan-rekan sejawat saya. Perbedaan pandangan justru kami jadikan materi dialog yang seru. Setelah diskusi panjang dan hati sempat “panas”, kami tetap sama-sama berjibaku menyelesaikan tugas-tugas kantor. Saya boleh sedikit dongkol kala berusaha meluruskan jalan pikir rekan saya, toh setelah itu kami tetap haha-hihi saling ledek sambil membahas mau makan siang di mana hari itu.

Begitu pula di media sosial. Linimasa saya di Facebook saya biarkan apa adanya. Tidak ada teman Facebook yang saya unfollow apalagi unfriend hanya karena perbedaan preferensi politik. Yang saya unfollow biasanya yang keseringan mengunggah foto tampang sendiri atau yang sedikit-sedikit curhat lebay gak penting, hahaha…

Tentu, ada kalanya saya merasa jengah membaca status-status di linimasa yang berbeda dengan pendirian saya. Ada pula saat-saat di mana saya geregetan dengan sebuah polemik yang berkembang dan tidak tahan untuk tidak menyuarakan pendapat saya (dengan cara terbaik menurut saya). Namun saya mengingatkan diri sendiri bahwa “the logout button is always there“. Masih banyak perkara penting yang harus saya kerjakan di dunia nyata, ketimbang membenamkan diri berjam-jam mantengin linimasa media sosial.

 

[Gambar diambil dari sini]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: