Posted by: salimdarmadi | 7 January 2016

Kisah Diaspora di Negeri Asing

people mapHi, how are you?” seseorang mendekati saya ketika saya menyudahi rangkaian ibadah shalat Jumat di kampus University of Queensland (UQ) St Lucia, Brisbane.

Ternyata orang itu adalah Arif, tutor saya di UQ setahun sebelumnya. Saya segera menyalami lelaki berkacamata asal Bangladesh itu. “Arif, how are you? I’m good. Are you still teaching at Bond University?”

Ketika masih bekerja sebagai tutor di UQ, Arif memang sibuk mencari posisi sebagai dosen penuh di Negeri Kanguru ini. Terakhir, saya mendengar kabar bahwa ia diterima bekerja di Bond University, sebuah universitas swasta yang terletak di Gold Coast, delapan puluh kilometer selatan Brisbane.

I’m now a lecturer at UQ,” jawabnya.

Wow, congratulations…” saya memberi selamat. Ia tersenyum sumringah, tampak binar bangga di kedua matanya.

Saya mengenal Arif sebagai sosok yang pintar dan ambisius. Ia memegang ijazah doktor dari Monash University dan telah memublikasikan karya-karya ilmiah di berbagai jurnal internasional terkemuka. Entah karena ingin mengembangkan potensinya di Australia atau karena tidak melihat masa depan yang jelas di negeri kelahirannya, ia memutuskan untuk menetap dan bekerja di Benua Kanguru ini.

Kisah Arif sebenarnya juga saya dapati pada rekan-rekan kuliah saya yang sebagian besar berasal dari Negeri Tirai Bambu. Banyak dari mereka menempuh studi pascasarjana di Australia sebagai lompatan untuk mencari peruntungan di tanah ini. Beberapa mahasiswa Indonesia, khususnya yang berasal dari disiplin ilmu sains dan teknik, juga memiliki rencana serupa. Saya pernah menerima undangan makan malam dari seorang kawan setanah air sebagai syukuran atas keberhasilannya memperoleh status pemukim tetap (permanent resident).

Di kota-kota besar Australia dan Selandia Baru yang sempat saya singgahi seperti Sydney, Melbourne, Brisbane, Auckland, dan Wellington, sangat mudah menemukan diaspora keturunan asing. Sebagian memang berstatus pelajar dan mahasiswa, namun sebagian yang lain telah bekerja atau sedang mencari pekerjaan di kedua negeri tersebut. Mayoritas diaspora tentu berasal dari Tiongkok dan India. Terlebih lagi, pemerintah Australia dan Selandia Baru membuka pintu yang relatif lebar untuk datangnya tenaga profesional asing, terutama untuk bidang-bidang profesi yang masih kekurangan tenaga terampil dan ahli.

Saya merenungkan perjuangan yang ditempuh oleh para diaspora dari berbagai penjuru bumi, yang sangat mudah saya jumpai di kota-kota besar tersebut. Mereka memutuskan untuk bermukim dan mencari penghidupan di sebuah negeri asing, jauh dari tanah kelahiran mereka. Tentulah ada bermacam-macam motivasi yang melatarbelakangi keputusan mereka, sebagaimana pernah saya dengar dari beberapa teman kuliah saya di UQ. Ada yang berniat mencari tantangan baru, ada yang ingin mengembangkan keahlian dan potensi di tengah dukungan sumber daya yang melimpah di negara maju, ada yang mengikuti suami, dan ada juga yang ingin mengubah nasib karena kondisi di tanah rantau ini lebih mendukung dibandingkan di negara asal yang masih centang perenang.

Karena arus masuk tenaga profesional asing tersebut, kita bisa mendapati bahwa sebagian posisi penting diduduki oleh para pendatang. Di universitas-universitas Australia, sebagian profesor dan dosen adalah orang asing, seperti Arif mantan tutor saya. Demikian juga di perusahaan swasta maupun institusi sektor publik, para diaspora keturunan asing turut memberi warna di jajaran pegawai maupun pimpinan.

Mari kita tinggalkan perdebatan soal jiwa nasionalisme mereka yang memutuskan mencari penghidupan di negara lain. Sungguh ada banyak variabel yang menentukan derajat nasionalisme seseorang, dan tidak semata diukur dari lokasi ia mengais rezeki. Bahkan di mata saya, diaspora yang bermukim dan bekerja di negeri orang memiliki peluang yang besar untuk berkontribusi terhadap negara asal atau tanah leluhur mereka. Tengoklah kisah Tiongkok dan Filipina. Keturunan Tionghoa yang tersebar di berbagai penjuru bumi banyak menjalin kerja sama bisnis dengan para pelaku usaha di daratan Tirai Bambu. Sementara itu, tenaga kerja migran Filipina baik profesional maupun buruh turut berkontribusi mendukung perekonomian negaranya melalui remitansi yang masuk dalam jumlah besar.

***

Namun, golongan diaspora suatu negeri yang tersebar di negara asing tentu bukan hanya terdiri dari tenaga profesional yang memiliki keahlian dan siap bersaing di pasar tenaga kerja. Pengalaman saya menunjukkan bahwa ada golongan diaspora yang berada dalam posisi kurang beruntung.

Ketika sedang mengantre di pemeriksaan imigrasi terminal keberangkatan Kuala Lumpur International Airport (KLIA), saya menjumpai pemandangan yang membuat pilu. Beberapa personel polisi dan imigrasi Malaysia menggiring lima orang pria berwajah Asia Selatan untuk ikut mengantre di pemeriksaan imigrasi. Penampilan kelima orang itu demikian bersahaja, bahkan dapat dibilang memrihatinkan. Pakaian lusuh, sendal jepit seadanya, tanpa barang atau bekal apa pun yang mereka bawa. Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk menebak bahwa mereka adalah para pendatang ilegal yang belum beruntung. Tertangkap oleh otoritas negeri jiran, lalu menjalani proses deportasi.

Adakalanya saya menjumpai sesama anak bangsa di negeri orang. Ketika menyusuri jalanan sambil menikmati pusat kota Kuala Lumpur, tidak jarang saya bertemu dengan saudara sebangsa, sebagaimana dapat saya tebak dari logat bahasa mereka. Mereka memutuskan untuk merantau jauh ke negeri orang, meninggalkan keluarga dan anak-anak yang masih kecil di kampung halaman, dan kemudian menjalani profesi seperti asisten rumah tangga, buruh pabrik, atau pramuniaga.

Atau ketika saya mendapati bahwa banyak saudara setanah air yang memilih bekerja sebagai joki untuk mencium hajar aswad, menawarkan jasa mereka kepada jemaah yang berthawaf mengitari Ka’bah. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah tidak ada lagi pekerjaan lain yang bisa mereka lakukan di Negeri Dua Tanah Haram ini? Apakah visa mereka telah kedaluwarsa dan mereka harus kucing-kucingan dengan petugas agar tidak dipulangkan ke Tanah Air? Pilu rasanya mendapati fakta ini di depan mata sendiri.

Bahkan seorang pendatang yang memiliki keahlian dan pengalaman pun masih harus menghadapi tantangan untuk merajut mimpi di sebuah negeri asing. Itulah yang saya jumpai dari Hasan, seorang pejalan asal Mesir yang saya jumpai di hostel tempat saya menginap di pusat kota Melbourne. Lelaki berusia empat puluhan tahun itu seorang apoteker di Kairo. Ia sengaja meluangkan waktu untuk pergi ke Australia, mencari-cari peluang untuk dapat mengembangkan keahlian dan bekerja di negeri ini.

“Sepertinya sulit ya untuk memperoleh pekerjaan dengan cepat di sini. Tadi saya shalat Jumat di masjid sekitar sini, dan saya bertanya-tanya kepada beberapa brother muslim yang ada di sana. Sayang tidak ada yang bisa membantu…”

Saya hanya bisa termangu mendengarkan curahan hati lelaki itu. Wajahnya tampak murung, seolah mencerminkan besarnya beban yang mengimpit. Ya, memang bukan hal yang gampang untuk mendapatkan pekerjaan dengan cepat di negeri selatan ini, apalagi pekerjaan yang sesuai dengan keahlian. Terlebih tanpa kerabat, sahabat, atau rekan sejawat yang bisa membantu.

Esok paginya, sambil berkemas untuk mengejar penerbangan paling awal menuju Tasmania, saya berpamitan kepada Hasan. Saya lihat ia membawa sajadah, lalu berjalan pelan menuju kamar kecil untuk mengambil air wudhu. Wajahnya masih terlihat mendung. Lagi-lagi saya termangu. Semoga Allah memberimu kemudahan dan jalan keluar, Brother

 

[Gambar diambil dari sini]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: