Posted by: salimdarmadi | 26 October 2015

Museumku, Kebanggaan Bangsaku

museum_direction_signMum, I wanna look at this!” Seorang anak lelaki kulit putih berusia sekitar enam tahun bergerak lincah dalam ruang pamer museum.

Okay. Take care…” Kedua orang tuanya tampak mengamati beragam koleksi dan mencermati aneka informasi yang terpampang di dalam ruangan tersebut, sambil tetap mengawasi gerak-gerik putra mereka.

Anak itu lalu memerhatikan beberapa koleksi museum, termasuk sebuah miniatur kapal perang yang pernah dipergunakan oleh angkatan bersenjata Australia.

Saat itu saya sedang mengunjungi Australian War Memorial di ibukota Australia, Canberra. Sebuah bangunan yang ditujukan untuk mengenang para prajurit yang gugur dalam berbagai tugas pertempuran yang melibatkan Australia.  Tidak sekadar sebagai peringatan perang, Australian War Momerial juga menjadi sebuah museum militer nasional. Di dalamnya pengunjung dapat menikmati koleksi sekaligus informasi mengenai pertempuran yang diikuti oleh Australia dari masa ke masa.

Menjumpai pasangan suami-istri dengan seorang anak kecil yang tengah menghabiskan akhir pekan mereka di sebuah museum di ujung Anzac Parade ini, saya semakin menyadari arti penting museum bagi sebuah bangsa. Museum bukan sekadar tempat mengumpulkan dan memajang benda-benda kuno, melainkan juga dapat menjadi tempat untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, termasuk kepada generasi muda.

Benda-benda bernilai sejarah tinggi pun tidak dipajang begitu saja, “bisu” dan miskin informasi. Dengan kreativitas mumpuni dan didukung kemajuan teknologi, kurasi museum-museum yang saya kunjungi di Australia pun sudah demikian modern. Ada konsep dan benang merah tertentu dari koleksi-koleksi museum, ada penataan yang apik dan membuat pengunjung penasaran, disertai aneka informasi pendukung yang tetap disajikan secara artistik.

Jadinya, museum pun memiliki daya tarik yang tinggi, dan menjadi salah satu alternatif untuk dikunjungi pada hari libur. Kondisi seperti itu pula di Australian War Memorial ini. Saya melihat anak usia sekolah dasar yang saya temui di ruang pamer ini tampak sangat menikmati kunjungannya. Saya yakin, setelah melihat aneka koleksi dan informasi, semakin bertambahlah pengetahuannya akan sejarah perjalanan negerinya. Wawasan kebangsaannya semakin terbentuk, rasa nasionalismenya kian menggelora, dan apreasiasinya terhadap para pahlawan bertambah kuat. Akhirnya, bertambahlah rasa bangga terhadap tanah tumpah darahnya, diiringi kesediaan untuk membangun dan membela negerinya.

Saya membayangkan, setelah mengunjungi Australian War Memorial ini, anak itu diajak oleh orang tuanya bertandang ke museum-museum lain yang ada di Canberra. Masing-masing museum menawarkan konsep dan materi yang berbeda-beda sesuai peruntukannya, namun selalu ada setumpuk manfaat dan inspirasi yang dapat diperoleh.

Ada National Museum of Australia, yang berdiri dengan anggun di tepi Danau Burley Griffin. Di museum itu, ia dapat memperkaya perspektif mengenai hal-ihwal negeri kelahirannya. Mulai dari ragam flora dan fauna, corak budaya penduduk asli Aborigin, hingga rangkaian peristiwa sejarah yang telah dilalui Australia pasca-kedatangan orang Eropa. Menyaksikan kekayaan alam dan sejarah negerinya, saya yakin akan semakin dalam penghayatan anak lelaki itu terhadap bait-bait lirik lagu kebangsaannya, “In history’s page let every stage, advance Australia fair…”

Di gedung tua yang dahulunya ditempati oleh Parlemen Australia, terdapat Museum of Australian Democracy. Sebuah museum yang merekam perjalanan yang dilalui bangsa Australia dalam berdemokrasi, sekaligus sejarah sosial dan politik negeri itu. Materi museum ini memang berat, namun dapat dikemas dengan demikian menakjubkan. Dalam bayangan saya, anak lelaki penikmat museum yang saya temui akan belajar bagaimana negerinya meletakkan dasar-dasar untuk terbangunnya sebuah sistem pemerintahan yang demokratis, dan bagaimana latar dinamika politik di negaranya mengalami evolusi dari masa ke masa.

* * *

Sepanjang waktu mengizinkan, saya berusaha mengunjungi museum ketika bertandang ke suatu tempat. Keberadaan museum sangat membantu saya mengetahui latar belakang suatu tempat maupun masyarakatnya. Tentu, di luar negeri, beragam koleksi dan informasi yang ada di museum akan saya nikmati dari sudut pandang orang asing. Namun, pembelajaran yang saya petik sungguh menginspirasi. Termasuk bagaimana masyarakat setempat membentuk konsep kesadaran dan kebanggaan berbangsa.

Sebagai pengunjung awam, saya memiliki standar yang sederhana saja apakah sebuah museum dikategorikan bagus atau tidak. Pertama, museum itu sukses memancing rasa penasaran saya sehingga saya bisa betah berlama-lama di dalamnya. Kedua, penataan museum itu memungkinkan saya menikmati isi museum sendirian, tanpa harus menunggu tur keliling museum bersama pemandu.

Saya sadar, memang seharusnya substansi mengungguli format (substance over form). Namun, dalam pandangan awam saya, penataan museum memang harus benar-benar memerhatikan format penyajian. Tanpa kurasi dan penataan yang mumpuni (misalnya sekadar memajang benda kuno tanpa konsep dan informasi pendukung), sepertinya mustahil para pengunjung akan tertarik mengeksplorasi lebih jauh. Akibatnya, misi museum untuk menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat luas tidak akan tercapai.

Di museum-museum yang bagus menurut kategori saya, saya bisa berlama-lama berkeliling sendirian. Mencermati lekuk dan detail benda-benda yang dipamerkan, sekaligus membaca informasi yang tertera. Saya seakan tenggelam menyusuri mesin waktu, membayangkan perjalanan jatuh-bangun suatu bangsa di masa lampau, hingga bangsa itu mewujud seperti sekarang. Pikiran saya juga sibuk mengira-ngira bagaimana suatu masyarakat meraba arah perjalanannya ke depan, menuju cita-cita kolektif yang diimpikan.

Di Museum of Siam, Bangkok, saya menjumpai metode penyajian yang unik. Banyak informasi disampaikan secara interaktif. Museum tersebut berfokus pada identitas nasional masyarakat Thailand, sehingga pengunjung dapat belajar banyak mengenai sejarah masyarakat Negeri Gajah Putih itu. Dalam sebuah video, seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, “Ayah, apakah aku benar-benar orang Thai?” Pertanyaan polos gadis kecil itu diikuti tayangan menarik bagaimana masyarakat Thailand terbentuk dari percampuran bangsa-bangsa yang datang dan kemudian mendiami tanah tersebut. Dengan keragaman latar belakang, masyarakat Thailand pun kemudian berupaya menemukan identitas nasional yang menyatukan mereka.

Saya mengunjungi National Museum of Singapore ketika museum tersebut menggelar eksibisi khusus bertajuk “Singapura: 700 Years”, yang sukses membuat saya berdecak kagum. Eksibisi itu menggambarkan dengan demikian memesona bagaimana Negeri Singa itu bertransformasi dari sebuah desa nelayan yang tidak diperhitungkan berabad lampau, kemudian menjelma menjadi pelabuhan dagang Inggris di Asia Tenggara, dan akhirnya menjadi sebuah negara-kota yang merdeka dan berdaulat. Mungil namun disegani.

Bagaimana kondisi museum-museum di negeri sendiri? Saya pernah mengunjungi beberapa museum di Tanah Air yang telah ditata secara apik dan modern. Termasuk kategori bagus menurut saya. Namun harus diakui secara jujur, sebagian besar museum kita masih memerlukan sentuhan perbaikan di sana-sini, dan bahkan sebagian terbilang mengenaskan. Memang, perbaikan museum dari segala aspeknya memerlukan investasi yang besar, terlebih dengan banyaknya museum yang tersebar di berbagai penjuru Tanah Air. Namun, investasi yang dikeluarkan sepertinya sepadan dengan manfaat yang berhasil ditebarkan. Menyediakan sarana rekreasi kepada masyarakat sekaligus memperkaya wawasan, meneguhkan kesadaran dan kebanggaan berbangsa.

Menjadi impian saya, keberadaan museum-museum yang bagus akan semakin menjamur di Tanah Air suatu hari nanti, memanggil-manggil perhatian masyarakat untuk berkunjung dan mengeksplorasinya. Bagi saya dan keluarga yang tinggal di seputar Jakarta, kunjungan ke museum akan menjadi agenda akhir pekan yang semakin diperhitungkan. Demikian juga ketika berkunjung ke daerah lain, museum akan masuk dalam daftar tempat-tempat yang akan disambangi, melengkapi agenda wisata alam, budaya, kuliner, dan religi.

[Gambar diambil dari sini]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: