Posted by: salimdarmadi | 13 August 2012

Apa yang Saya Peroleh dari Perjalanan?

Milford Sound, Selandia Baru (dok. pribadi)

Saya menemukan passion saya dalam aktivitas jalan-jalan; meski tentu saya tidak bisa disebut travel-freak karena aktivitas satu ini seringkali tidak menjadi prioritas dalam agenda saya dan keluarga (di akhir pekan, ke Kebun Raya Bogor atau Taman Mini Indonesia Indah pun sudah cukup memberikan penyegaran). Dalam jalan-jalan,  yang saya pentingkan bukan destinasi semata, tetapi juga esensi dan nilai yang bisa saya serap sepanjang perjalanan dan dalam mengamati keseharian orang lokal.

Berbagai gaya perjalanan sudah pernah saya coba, baik sebagai solo backpacker, bepergian bersama keluarga/teman, ataupun mengikuti paket tur yang disediakan oleh penyedia jasa. Perjalanan di dalam maupun di luar negeri tentu sama menyenangkan. Namun, sebagaimana pernah saya rasakan, perjalanan di luar negeri terbilang memberikan tantangan yang lebih besar karena kita akan berhadapan dengan situasi yang berbeda dengan di negeri sendiri.

Lalu apa yang saya dapatkan dari perjalanan? Tentu terlalu panjang jika harus saya sebutkan satu persatu. Berikut beberapa pengalaman dan pelajaran berharga yang saya peroleh ketika melakukan suatu perjalanan. Untuk perjalanan ke luar negeri, nama-nama negara saya singkat, seperti Australia (“AU”), Selandia Baru (“NZ”), Malaysia (“MY”), Singapura (“SG”), Thailand (“TH”), dan Brunei Darussalam (“BN”).

Menikmati keindahan alam. Berbagai tempat di muka bumi menarik begitu banyak pengunjung karena menawarkan keindahan alam yang memesona, termasuk breathtaking scenery. Saya masih ingat bagaimana saya ternganga ketika menyaksikan keindahan hamparan gunung dan lembah Alpen Selatan di South Island (NZ) dengan salju yang meliputi puncak-puncak gunungnya. Meskipun relatif minimalis (tanpa pohon kelapa dan penjual es kelapa muda, maksud saya), pantai-pantai di pesisir timur AU seperti di Noosa Heads, Byron Bay, dan Stradbroke Island pun menjadi penyegar pikiran yang ampuh. Dari dalam negeri, tentu menyenangkan melihat pemandangan alam bawah laut melalui perahu beralas kaca, sebagaimana pernah saya alami di Iboih (Sabang, Aceh) dan Nusa Dua (Bali).

Merasakan bagaimana masyarakat setempat menjalani keseharian. Tentu pengalaman seru ini tidak dapat diperoleh jika kita mengikuti paket tur atau hanya mengunjungi daerah-daerah touristy. Misalnya, justru menjadi hal yang menyenangkan ketika saya “terjebak” dalam hiruk-pikuk lalu-lintas Senin pagi di Auckland (NZ). Menjajal transportasi umum yang sering digunakan warga lokal tentu menjadi pengalaman unik, seperti kereta MRT di Singapura, monorail BTS di Bangkok (TH), ataupun perahu yang disebut water taxi di Bandar Seri Begawan (BN). Di BN, saya juga melihat bagaimana kehidupan unik masyarakat di Kampong Ayer, permukiman-atas-air terbesar di dunia. Karena pernah tinggal selama sekitar dua tahun di Brisbane (AU), otomatis saya pernah menjadi bagian dari keseharian warga setempat.

Melihat praktik keyakinan dan budaya masyarakat. Sebagai seorang muslim, saya berusaha mengunjungi masjid terkenal di suatu tempat, seperti Masjid Sultan di Kampong Glam (SG), Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin di Bandar Seri Begawan (BN), dan Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh. Ketika tinggal di Brisbane dan saat backpacking keliling NZ, mengunjungi masjid juga menjadi agenda tersendiri. Pun saya berkesempatan melihat tempat ibadah agama lain seperti Katedral Anglikan di Christchurch (NZ), kuil Buddha di Bangkok (TH), dan Pura Uluwatu, Bali. Wisata budaya juga menjadi agenda saya, seperti menonton pertunjukan tari Maori di Rotorua (NZ) serta tari barong di Gianyar, Bali.

Menambah wawasan tentang sejarah dan politik suatu negara. Hal ini dapat saya peroleh ketika misalnya mengunjungi gedung parlemen di Canberra (AU), kantor perdana menteri di Wellington (NZ), Istana Nurul Iman-Bandar Seri Begawan (BN), dan Grand Palace-Bangkok (TH). Di Tasmania (AU), saya menengok kompleks penjara Port Arthur yang merupakan tempat pembuangan narapidana dari Inggris di masa lampau. Museum nasional tentu menjadi lokasi paling cocok untuk menambah pengetahuan sejarah dan budaya di suatu negeri. Di negara-negara maju, pengelolaan museum tentu sudah lebih mapan. Beberapa museum yang berkesan bagi saya adalah National Museum of Australia di Canberra (AU), Te Papa Museum di Wellington (NZ), dan Siam Museum di Bangkok (TH).

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin, Brunei Darussalam (dok. pribadi)

Melihat langsung profil khas tempat tertentu. Sebagai contoh, Opera House di Sydney (AU), Sky Tower di Auckland (NZ), Patung Merlion di Marina Bay (SG), dan Sungai Chao Phraya (TH) sudah demikian melegenda. Bagi saya, tentu menjadi milestone tersendiri ketika telah menginjakkan kaki di tempat-tempat tersebut. Flora dan fauna kadang juga baru bisa kita lihat langsung di negeri asalnya. Misalnya, di AU saya bisa melihat langsung kanguru, koala, dan platypus; sedangkan di NZ saya melihat burung kiwi dan hutan kauri yang pohonnya bisa bertahan hidup hingga ribuan tahun. Saya juga berkesempatan melihat lumba-lumba dan dan paus di habitat aslinya dekat Stradbroke Island dan Redcliffe, Queensland (AU).

Menjadi international citizen. Mengunjungi tempat-tempat yang touristy dapat memberikan keuntungan tersendiri di mana kita dapat berinteraksi dengan orang asing maupun warga lokal. Ketika mengelilingi NZ dan bagian tenggara AU, saya menginap di hostel dan sekamar dengan orang-orang yang berasal dari berbagai penjuru bumi dan dengan karakter yang unik-unik. Bahkan di NZ, saya mendapatkan teman jalan yang berasal dari Korea Selatan, China, dan Spanyol. Ketika menyeberangi Cook Strait (NZ), saya terlibat dalam diskusi seru dan menyenangkan dengan warga setempat.

Belajar dari negara lain dalam mencapai kemajuan. Tahun 2011, saya pergi ke Bangkok (TH) karena tidak tega melepas istri saya untuk menghadiri sebuah konferensi ilmiah di sana. Di sana, saya lagi-lagi ternganga melihat MRT dan monorail BTS yang demikian progresif. Di kota ini, bahkan saya bisa melenggang bebas di pasar sayur-mayur di dekat Chatuchak Weekend Market yang bersih dan tertata rapi. Di negara maju seperti SG, AU, dan NZ, tentu ada begitu banyak hal yang dapat dipelajari. Pengalaman menjadi tenaga volunteer di sebuah sekolah dasar di Brisbane memberi saya wawasan bagaimana sistem pendidikan di AU dikembangkan. Tanpa harus merasa rendah diri, patutlah kita belajar banyak kepada TH, SG, dan MY dalam mengelola bandar udara. Kemegahan dan keteraturan di Suvarnabhumi, Changi, dan KLIA membuat bandara kebanggaan kita di Cengkareng seakan tenggelam.

Merasakan pengalaman seru yang memacu adrenalin. Ada beberapa pengalaman seru yang kadang tidak dapat dirasakan di negeri sendiri, misalnya bermain ski salju. Untuk mencoba ski salju, saya harus menuju Thredbo Village di Snowy Mountains (AU), di mana bus berangkat pagi buta di tengah dekapan musim dingin Canberra pada temperatur di bawah nol. Queenstown di South Island (NZ) sering disebut sebagai “adventure capital of the world“. Di sana saya mencoba jetboating dengan manuver memacu adrenalin di Shotover River. Namun untuk bungee jumping, saya tidak berani mencoba di samping alasan klasik lainnya (baca: mahal). Di Dreamworld, Gold Coast (AU), saya sempat mencoba roller coaster yang beberapa kali lebih mendebarkan dibandingkan yang ada di Dunia Fantasi, Ancol.

Merasakan makanan khas. Di era globalisasi sekarang ini, memang tidak harus berkunjung ke negara tertentu untuk mencicipi makanan khasnya. Namun tentu akan lebih sensasional dan orisinil menikmati suatu makanan di negara atau daerah asalnya. Misalnya, nasi katok di BN serta nasi lemak plus teh tarik di MY. Di Bali, meski muslim minoritas, tidak sulit menemukan ayam betutu halal. Di AU dan NZ, tentu perlu perjuangan tersendiri menemukan rumah makan halal, or you will end up in the Subway outlets. Demikian juga, di Bangkok (TH), saya dan istri harus tersesat dulu untuk bisa menemukan restoran Malaysia, yang para pelayannya adalah orang-orang Pattani yang bertutur bahasa Melayu.

Tentu masih banyak hal yang dapat diperoleh dari jalan-jalan. Setelah kembali ke kantor dan menjalani kehidupan rumah tangga, kesempatan jalan-jalan memang terbilang berkurang. Namun, saya masih menyimpan keinginan untuk menginjakkan kaki di berbagai tempat di negeri ini maupun di negeri-negeri lain. Untuk menyerap banyak pelajaran, mengagumi kebesaran-Nya, menikmati pesona alam, serta melihat manusia, budaya, dan bahasa…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: