Posted by: salimdarmadi | 23 September 2015

Ada atau Tidak Ada, Sama Saja?

contribution“Assalamu’alaikum, Pak Amran…” sapa saya sambil menaiki anak tangga menuju mushalla University of Queensland (UQ), siang itu. Mushalla masih tampak sepi, karena waktu zhuhur memang belum tiba. Hanya terlihat Pak Amran yang duduk di atas sebuah kursi plastik di dekat pintu masuk mushalla. Di sampingnya, tampak sebuah meja dengan beberapa puluh boks makanan yang tertata rapi.

“Wa’alaikumussalam, Pak Salim,” sahut pria itu ramah, dengan logat Melayu-nya yang kental. “Sile Pak, ade nasi lemak ni…”

“Wah, tidak biasanya Pak Amran memasak nasi lemak. Berapa harganya, Pak?”

“Harga sama la dengan nasi ayam, empat dollar sahaje…”

Saya pun mengambil satu boks nasi lemak dan menyerahkan uang kepada Pak Amran, lalu memasukkan boks itu ke tas punggung saya. Biasanya, menu makan siang itu saya nikmati setelah shalat zhuhur, pada sesi jeda di antara jam-jam kuliah.

Bagi mahasiswa yang tergolong malas memasak seperti saya, ketersediaan menu makan siang di kampus menjadi kebutuhan tersendiri. Pada beberapa bulan pertama di kampus ini, kafeteria menjadi tempat tujuan saya. Di sana ada beberapa menu yang bisa saya makan seperti kentang goreng dan mi goreng, namun harganya terbilang mahal untuk ukuran kantong saya. Hingga akhirnya, saya mendapat informasi bahwa ada seorang mahasiswa muslim asal Malaysia yang berjualan nasi ayam di mushalla UQ pada saat jam istirahat siang.

Ya, Pak Amran adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi terkemuka di negeri jiran yang tengah menuntut studi doktoral di kampus UQ St Lucia. Uang beasiswa yang pas-pasan untuk menghidupi keluarga membuatnya berupaya mencari tambahan penghasilan, salah satunya dengan berjualan nasi ayam halal di mushalla kampus. Harga empat dollar yang dipasangnya untuk satu boks makanan terbilang murah-meriah. Maka, saya pun menjadi salah satu langganan tetap Pak Amran. Bagi ayah dua anak itu, mungkin berjualan menu makan siang hanyalah “sekadar” upaya menyambung hidup di tanah rantau. Namun bagi saya dan banyak mahasiswa muslim yang tidak sempat memasak, keberadaan Pak Amran setiap siang di mushalla terasa sangat berarti.

Hingga akhirnya datang berita mengejutkan itu. Pada suatu sesi buka puasa bersama di Ramadhan kedua saya di Brisbane, Pak Amran berujar kepada saya, “I’ll be back to Malaysia for good…

Setelah Ramadhan itu berlalu, saya tak lagi berjumpa dengan Pak Amran. Ia dan keluarganya telah kembali menjalani keseharian di Tanah Semenanjung. Hingga saya menyelesaikan pendidikan di UQ, belum ada orang yang menggantikan lelaki peramah itu, menyapa jamaah mushalla di jam istirahat siang sambil menawarkan menu makan siang dengan harga yang sangat terjangkau. Saya pun kembali menjadi pelanggan tetap gerai-gerai makanan di kafeteria.

* * *

Bagi saya, kisah Pak Amran merupakan salah satu dari banyak kisah para penebar manfaat. Orang-orang yang kehadirannya dirasa sangat berarti oleh orang-orang di sekelilingnya. Ketika seorang penebar manfaat pergi, ada rasa kehilangan yang dirasakan oleh orang-orang yang ditinggalkan. Alhamdulillah, di negeri orang ini, sebagaimana juga yang saya alami di Tanah Air, saya dipertemukan dan berkesempatan berinteraksi dengan banyak orang yang selalu ingin memberikan kemanfaatan sebanyak mungkin bagi orang-orang di sekitarnya.

Berulangkali saya mengucapkan salam perpisahan kepada para penebar manfaat yang hendak kembali ke Tanah Air, dan beberapa kali melepas mereka di terminal keberangkatan internasional Brisbane Airport. Setelah mereka tidak lagi mendampingi keseharian saya di Brisbane, terasa ada sesuatu yang kurang. Bagaimana tidak, selama ini mereka dikenal sebagai orang yang tidak segan-segan turun tangan membantu orang lain,  dan aktif memberikan sumbangsih dalam kegiatan-kegiatan komunitas. Tanpa pamrih. Tidak heran, setelah mereka tidak lagi tinggal di Brisbane, kebaikan mereka masih terus diingat dan disebut-sebut oleh orang-orang yang masih menikmati peninggalan berharga (legacy) mereka.

Di satu sisi, menebar manfaat memang merupakan bagian dari aktualisasi diri, ketika seseorang ingin menegaskan keberadaan dan keberartian diri di tengah interaksi dengan sesama anak manusia. Di sisi lain, ada orang-orang yang merasakan maslahat besar yang mereka rasakan dari para penebar manfaat itu. Bahkan, dalam banyak hal, si penebar manfaat tidak menyadari berapa besarnya kebaikan yang mereka tularkan kepada lingkungan sekelilingnya.

Dalam interaksi saya dengan banyak orang di negeri orang ini, saya sempat merasa “iri” kepada mereka yang berpotensi menebar manfaat dalam skala luas. Sekadar menyebut beberapa, ada seorang sahabat yang menjadi “aktor intelektual” di tempatnya bekerja di salah satu institusi pemerintahan; pandangan-pandangannya sangat didengar dalam pengambilan keputusan institusi yang pada gilirannya memengaruhi kehidupan rakyat banyak. Ada banyak rekan yang berprofesi sebagai dosen; mereka mengajarkan ilmu pengetahuan di kelas-kelas yang mereka ampu dan menginspirasi generasi penerus bangsa di masa depan. Ada juga seorang kenalan yang dikaruniai wawasan keagamaan yang luas, sehingga dapat berkontribusi signifikan dalam kegiatan-kegiatan dakwah Islam dan menjadi rujukan banyak orang.

Berinteraksi dengan orang-orang luar biasa seperti itu, saya kadang merasa belum punya sesuatu yang bisa menjadi andalan untuk menegaskan kebermanfaatan diri. Namun kemudian saya sadar, bahwa masing-masing anak manusia telah dikaruniai karakter dan sumber daya yang berbeda-beda, dan itulah yang seharusnya menjadi bekal untuk berkontribusi. Saya seharusnya tidak semata melihat besar-kecilnya skala suatu kontribusi. Karena kontribusi kebaikan apapun, ketika diiringi ketulusan hati, insyaallah akan menjadi nilai tersendiri yang mengangkat derajat seorang hamba di mata Tuhan.

Karena itu, menjadi kewajiban saya untuk selalu menumbuhkan semangat berkontribusi dan menebar manfaat. Kegembiraan pula yang saya rasakan ketika saya melihat antusiasme orang-orang di sekitar saya untuk berkontribusi, tidak peduli besar atau kecilnya. Saya menyambut gembira ketika beberapa orang ibu-ibu asal Tanah Air yang menanyakan apakah mereka boleh membantu sebagai pengajar dalam Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang saya dan beberapa rekan kelola. Saya juga merasa senang ketika larut dalam kesibukan mempersiapkan suatu kegiatan komunitas Indonesia di Brisbane. Kami sibuk melaksanakan tugas masing-masing, seperti mendirikan tenda, menata lokasi acara, ataupun membakar daging, namun dengan antusiasme yang sama karena berkesempatan berkontribusi dengan apa yang kami miliki.

Saya berusaha untuk selalu mengingatkan diri sendiri bahwa saya telah dikaruniai sumber daya untuk berkontribusi, yang dengan bekal itu saya harus dapat meningkatkan kebermanfaatan diri saya secara terus-menerus. Yang jelas, saya tidak ingin menjadi kaum medioker yang ada atau tidak ada akan terasa sama saja bagi orang lain. Terlebih lagi, saya tidak boleh termasuk golongan pembuat onar yang kehadirannya sungguh tidak diharapkan, sementara kepergiannya justru disyukuri habis-habisan…

[Gambar diambil dari sini]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: