Posted by: salimdarmadi | 27 July 2015

Semangat Memberi, Spirit Berderma

givingShalat Jumat yang dilaksanakan di Student Union Complex, di sudut kampus University of Queensland (UQ), usai sudah. Jamaah yang terdiri dari ratusan lelaki Muslim beragam bangsa itu pun lalu terpekur dalam dzikir masing-masing. Waktu itu bulan Ramadhan sudah hampir berlalu paruh pertamanya.

Seorang pria tampak bangkit dan mengambil posisi berdiri di sebelah imam, menghadap ke arah jamaah. Sepertinya seorang pengurus Muslim Students Association (MSA) UQ yang hendak menyampaikan pengumuman. “Brothers, kita sudah memasuki pertengahan bulan Ramadhan. Sebelum shalat Idul Fitri, kita diharuskan menyalurkan zakat fitrah untuk mereka yang kekurangan. Untuk itu, apabila Anda ingin menyalurkan zakat fitrah melalui MSA-UQ, silakan disampaikan dalam bentuk uang tunai kepada petugas kami. Zakat fitrah dari MSA-UQ akan disalurkan kepada kaum muslimin yang membutuhkan di Indonesia dan Zimbabwe…”

Mendengar nama negara saya disebut di depan jamaah shalat Jumat ini, ada rasa yang campur aduk. Di satu sisi ada rasa haru, karena menjumpai kepedulian yang tinggi dari saudara-saudara Muslim di negeri seberang ini terhadap kaum muslimin di Tanah Air. Namun di sisi lain ada perasaan semacam “tangan berada di bawah”. Terlepas dari segala rasa itu, harus diakui bahwa kaum muslimin Indonesia adalah tetangga terdekat muslim Australia yang paling membutuhkan bantuan dari distribusi hasil zakat. Umat Islam Australia memiliki tiga “tetangga” negara mayoritas muslim: Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Yang jelas, secara rata-rata, umat Islam di tanah tempat Dato’ Najib Razak dan Sultan Hassanal Bolkiah berkuasa memang telah mencapai tingkat kemakmuran yang lebih tinggi dibandingkan di Tanah Air, di mana masih banyak kaum muslimin yang masuk dalam kategori fakir ataupun miskin.

***

Alhamdulillah, saya memang tidak termasuk mustahiq zakat. Namun pada cerita di atas, saya tetaplah bagian dari umat Islam dari sebuah negeri yang menjadi sasaran distribusi hasil zakat kaum muslimin Negeri Kanguru.

Ketika saya baru saja menjadi orang dengan peran “memberi”, biasanya ada perasaan tentram dan bahagia karena telah melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, karena bagian harta yang bukan hak saya telah terbayarkan, atau karena bisa membantu sesama anak manusia untuk sekadar menyambung hidup atau untuk mencapai cita-cita. Ada ucap syukur yang berulang-ulang atas kelapangan rezeki yang telah Tuhan berikan. Namun, bagaimana ketika satu saat saya justru berada dalam peran “menerima”, seperti yang saya rasakan pasca-pengumuman MSA UQ tersebut? Saya sulit menemukan kata-kata yang tepat merepresentasikan perasaan ini. Namun yang jelas, ada unsur malu atau terusiknya harga diri.

Membicarakan soal posisi “memberi-menerima” ini sepertinya tidak bisa dipisahkan dengan diskusi soal fenomena kemiskinan di suatu negeri serta upaya memberantasnya. Dari sisi makro, tentu pemerintah selaku pihak yang diberi mandat melaksanakan urusan-urusan rakyat memegang peran utama dalam upaya pemberantasan ini. Saya menyadari bahwa agenda pemberantasan kemiskinan merupakan upaya yang memakan waktu panjang dan dengan serangkaian paket kebijakan yang komprehensif. Yang jelas, bolehlah saya memimpikan bahwa suatu hari nanti hal-hal positif yang saya lihat di Negeri Kanguru dapat mewujud di Tanah Air tercinta. Kesejahteraan sosial relatif merata, mayoritas masyarakat merupakan kelas menengah dengan taraf hidup yang setara, dan sistem jaminan sosial sudah demikian memadai. Tak terkecuali masyarakat muslim di negeri ini. Di Australia, kaum muslimin baik warganegara maupun pendatang menikmati taraf hidup yang kurang lebih setara, dan tidak lagi sekadar berkutat pada kebutuhan-kebutuhan hidup yang paling mendasar. Untuk menemukan sesama muslim yang pantas menjadi mustahiq pun terasa sulit di negeri ini. Saya jadi teringat dengan fenomena yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Sementara di sisi mikro, individu-individu muslim, terlebih mereka yang berkecukupan, seharusnya terpanggil dalam upaya pemberantasan kemiskinan ini. Terlebih ada banyak penggal firman Allah dan sabda Rasul yang memerintahkan orang berpunya untuk berderma. Namun, sebagaimana pernah saya baca pada tulisan seorang ustadz muda di Tanah Air, baik si kaya maupun si miskin harus sama-sama mengejawantahkan nilai-nilai ketakwaan. Ketika takwa menjadi karakter yang mengemuka, maka si kaya akan menjadi pribadi dermawan, sementara si miskin akan iffah (menjaga kehormatan diri). Si kaya akan selalu tersadar untuk menyalurkan bagian harta yang bukan haknya dan selalu terasah empatinya terhadap sesama yang membutuhkan. Si miskin akan tetap berusaha memelihara harga diri, terus bekerja dengan bekal dan kemampuan yang dimiliki, dan memiliki perspektif jangka panjang dalam mengelola harta.

Saya teringat ucapan seorang kawan beberapa waktu lalu. “Lim, saya bersyukur sekali dengan rezeki di tempat kerja baru sekarang, alhamdulillah terasa sangat berlimpah buat saya. Saya merasa, dengan rezeki ini saya berkesempatan untuk menolong orang lebih banyak. Jujur, di tempat kerja sebelumnya, saya suka pikir-pikir kalau mau membantu orang. Alhamdulillah, sekarang rasanya saya nggak perlu ngitung-itung lagi…”

Ingin sekali saya seperti kawan saya itu. Kelapangan rezeki yang Allah karuniakan untuknya, menjadi salah satu sarana andalan untuk menebar manfaat, membantu mereka yang membutuhkan, dan berinfak di jalan kebaikan.

[Gambar diambil dari sini]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: