Posted by: salimdarmadi | 30 August 2018

Berburu Profesor untuk Studi S-3 (PhD) di Luar Negeri

Sebelum mengajukan aplikasi untuk masuk program Doctor of Philosophy (PhD) di perguruan tinggi di Inggris, Australia, dan Selandia Baru, umumnya kita perlu memperoleh support dari seorang calon supervisor terlebih dahulu. Memang ada perguruan tinggi yang tidak meminta pelamar program PhD untuk menghubungi calon supervisor, namun sebagian besar meminta pelamar untuk terlebih dahulu mendapatkan profesor yang bersedia membimbing.

Kalau kita googling tips-tips berburu profesor, akan kita jumpai banyak blogger yang membagikan pengalaman mereka menghubungi profesor dan akhirnya diterima di universitas tujuan mereka. Di sini saya bermaksud melakukan hal serupa, membagikan pengalaman saya yang mungkin relevan untuk teman-teman yang akan atau sedang berburu profesor.

Dari pengalaman saya di tahun 2017, berikut langkah-langkah yang saya persiapkan dan lakukan untuk menghubungi profesor dan kemudian mengajukan aplikasi program PhD di universitas tempat si profesor bernaung.

Siapkan Dua Senjata: Curriculum Vitae dan Proposal Riset

Ini adalah dua dokumen yang harus kita persiapkan sebelum menghubungi calon supervisor PhD yang kita incar. Proposal penelitian tentu untuk menjabarkan rencana penelitian kita, sehingga si calon supervisor bisa melihat prospek aplikasi kita dan, tak kalah penting, melihat apakah  rencana penelitian kita selaras dengan minat riset dia. Kemudian, CV ditujukan agar calon supervisor dapat melihat kualifikasi dan pengalaman kita di masa lampau, sekaligus menentukan prospek kita untuk menempuh studi PhD di bawah bimbingan dia.

Saran saya, siapkan CV yang atraktif dan ringkas. Atraktif, dalam arti CV harus bisa menonjolkan pengalaman positif dan keunggulan kita. Selain itu, CV harus ringkas. Mari selalu ingat bahwa profesor yang akan kita hubungi adalah orang-orang sibuk, sehingga CV yang terlalu panjang justru akan membuat daya tarik kita tidak terfokus dan membuat pembaca terdistraksi.

Dari pengalaman saya, yang perlu dijabarkan dalam CV adalah riwayat profesional, riwayat pendidikan, sertifikasi profesional, prestasi/penghargaan, dan pengalaman riset. Jadi, kita tidak perlu menjabarkan informasi-informasi lain yang mungkin kurang relevan seperti pengalaman mengikuti seminar/workshop dan pengalaman berorganisasi, kecuali jika memang kita punya alasan kuat untuk memasukkan informasi tersebut. Contoh CV saya dapat diunduh di link berikut: Salim DARMADI_CV_Feb 2018

Berikutnya, kita harus mempersiapkan juga proposal penelitian sebaik mungkin. Tips-tips proposal penelitian untuk berburu profesor dan beasiswa S-3 sudah saya bagikan di tulisan ini.

Buat Daftar Para Profesor yang Kita Incar

Begitu CV dan proposal sudah siap, selanjutnya kita perlu menentukan para supervisor potensial untuk kita hubungi. Saran saya yang paling utama adalah banyak-banyak browsing dan membaca paper jurnal sebelum memutuskan profesor mana saja yang akan kita hubungi.

Kita bisa menentukan calon supervisor antara lain dengan banyak membaca paper ilmiah pada bidang minat penelitian kita. Kemudian kita menelusuri profil si penulis paper tersebut di website universitas tempat mereka bekerja. Selain itu, kita bisa juga menemukan calon supervisor dengan menelusuri informasi di website sebuah universitas, dan kemudian mencari akademisi universitas tersebut yang bidang risetnya sama dengan topik proposal PhD kita.

Di website universitas, biasanya kita bisa dengan mudah menemukan informasi terkait profil dan kualifikasi para akademisinya, kemudian juga riwayat publikasi mereka, proyek penelitian yang sedang mereka garap, alamat email mereka, juga para mahasiswa PhD yang mereka bimbing berikut topik tesis/disertasi masing-masing. Informasi ini menjadi bekal kita untuk menentukan mana calon supervisor yang sekiranya cocok. Akan lebih baik juga jika calon supervisor kita minimal sudah bergelar Associate Professor, yang biasanya sudah memiliki lebih banyak pengalaman publikasi dan membimbing mahasiswa PhD.

Kecuali kita mau melamar beasiswa dari sebuah universitas, menurut saya tidak ada salahnya kita menggunakan sistem “tebar kail” untuk memperbesar peluang kita. Tahun lalu, pada saat yang bersamaan saya mengubungi beberapa profesor sekaligus dari universitas yang berbeda-beda, menyampaikan minat saya untuk menjadi mahasiswa bimbingan mereka. Namun, sebagaimana disarankan oleh seorang kawan saya, saya tidak menghubungi dua orang profesor di universitas yang sama sekaligus. Jika tidak mendapat respons positif dari seorang profesor di universitas A, saya baru menghubungi profesor lain di universitas A tersebut.

Tentu masing-masing orang memiliki pertimbangan yang berbeda-beda dalam memilih calon supervisor, misalnya terkait universitas tempat profesor tersebut bernaung, pemberi beasiswa, negara tempat kedudukan universitas, pengalaman publikasi si profesor, dan sebagainya.

Sudah membuat list calon supervisor yang akan dihubungi? Selanjutnya kita menyusun konsep email kepada para profesor yang sudah masuk dalam daftar kita.

Mengirimkan Email Berisi Permintaan untuk Dibimbing

Ketika mengirimkan email kepada calon supervisor, kita perlu memastikan bahwa kita menggunakan bahasa Inggris yang proper dan sopan. Contoh email untuk menghubungi calon supervisor bisa dengan mudah kita temukan lewat bantuan Google. Dari pengalaman saya, setidaknya ada beberapa hal yang perlu tercakup dalam email tersebut: (1) perkenalan diri; (2) rencana menempuh studi PhD; (3) bagaimana kita bisa mengetahui profil profesor yang bersangkutan; dan (4) menanyakan apakah yang bersangkutan bersedia membimbing kita.

Format email yang saya gunakan untuk menghubungi para calon supervisor kurang lebih sebagai berikut.

———————

Subject: PhD Supervision Enquiry

Dear Professor Phillip Smith,

 My name is Salim (Mr Salim DARMADI). I am a senior analyst at the Indonesia Financial Services Authority (OJK) in Jakarta, Indonesia, with a ten-year public sector career experience in the area of financial sector assessment. I obtained my Bachelor’s degree in Accountancy from the Indonesian College of State Accountancy (STAN) and my Master’s degree in Applied Finance from The University of Queensland, Australia.                

I am currently planning to attend a PhD program at an Australian university. I would like to investigate the association between corporate governance and information disclosure among the Indonesian listed companies. I expect that the result of my research would provide useful insights and practical implications for the execution of OJK’s role in safeguarding Indonesia’s financial system stability. For my study funding, I have secured a full PhD scholarship from the Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP) provided by the Indonesian government.

I first learned about you from your published work and your profile on the University of Brisbane website. I then concluded that my proposed topic suits your research interests, and I am now considering undertaking a PhD study at the University of Brisbane under your supervision.

I hereby would like to enquire whether you are currently accepting PhD students. I would be very grateful if you could become my supervisor and support me to succeed in my PhD study. My CV and brief research proposal are enclosed for your consideration. So far I have some experiences in publishing academic papers (mainly in the area of corporate governance), which I expect could make me better prepared in commencing my PhD study.

I realise that you are very busy so I highly appreciate any time you could give me. Thank you very much for your attention.

Sincerely,

Salim

——————–

Menunggu dan Mendapat Respons dari Calon Supervisor

 Setelah email dikirimkan, kita tinggal menunggu respons dari si calon supervisor. Dari pengalaman saya menghubungi sekitar 40 orang akademisi  di Inggris, Australia, dan Selandia Baru (Yes, I struggled that hard, hehehe), setidaknya terdapat empat jenis respons yang saya peroleh dari mereka:

  • Tidak dibalas sama sekali. Kalau dikacangin seperti ini, tentu tidak usah dibuat galau dan baper, hehehe. Saya pribadi berusaha memaklumi, karena umumnya para calon supervisor ini adalah orang-orang sibuk dan mempunyai skala prioritas tersendiri dalam menanggapi email-email yang masuk ke inbox Atau bisa jadi juga mereka menganggap si pelamar kurang prospektif sehingga memilih untuk tidak menanggapi, hehehe.
  • Mendapat respons negatif. Dari beberapa kali saya mendapat respons negatif (yaitu si profesor tidak bersedia atau tidak bisa mengabulkan permohonan saya), alasan mereka adalah mereka sudah membimbing beberapa mahasiswa PhD lainnya, sehingga beban bimbingannya sudah full capacity. Apabila mendapat respons seperti ini, segera lanjutkan ikhtiar pencarian Anda, baik di universitas yang sama ataupun di universitas lain. Saya pernah mendapat jawaban dari seorang profesor yang tidak bisa membimbing saya, namun menyarankan saya untuk menghubungi koleganya di universitas yang sama.
  • Mendapat respons “netral”. Ini biasanya terjadi apabila program PhD di universitas tempat si profesor bekerja tidak mensyaratkan pelamar untuk menghubungi calon supervisor. Dalam email-nya, si profesor tidak memberikan jawaban ya atau tidak, melainkan meminta saya untuk mengajukan aplikasi formal untuk masuk program PhD universitas yang bersangkutan. Namun dari pengalaman saya mengajukan aplikasi online di beberapa universitas seperti ini, tetap ada isian proposed supervisor untuk diisi oleh pelamar. Pengalaman saya ketika melamar di University of Technology Sydney (UTS), setelah saya mengontak seorang profesor, saya kemudian mendapat email dari Admission Team yang menjelaskan bahwa saya harus men-submit Expression of Interest (EOI) terlebih dahulu. Beberapa waktu setelah EOI saya kirimkan, saya dihubungi oleh seorang profesor UTS yang tertarik membimbing saya.
  • Mendapat respons positif. Tentu ini adalah jawaban yang diharapkan oleh seorang pelamar program PhD, di mana profesor yang kita hubungi menyatakan bersedia membimbing kita. Selanjutnya kita tinggal mengikuti arahan profesor yang bersangkutan, sesuai ketentuan universitas tempat ia bekerja. Ada yang menyarankan saya untuk mengajukan aplikasi formal; ada juga yang hendak mewawancarai saya lewat Skype terlebih dahulu.

Mengajukan Aplikasi Program PhD

Begitu sudah mendapat persetujuan dari calon supervisor, kita biasanya disarankan untuk segera mengajukan aplikasi formal ke program PhD universitas yang bersangkutan. Sekarang ini pengajuan aplikasi sudah serba mudah. Semuanya lewat online, umumnya juga tidak dikenakan application fee.

Di sistem aplikasi online, ada formulir yang harus diisi oleh pelamar, antara lain terkait informasi personal, riwayat pendidikan, pengalaman profesional, pengalaman riset, dan sebagainya. Kemudian kita juga perlu menyiapkan versi scanned dari dokumen-dokumen yang diminta, untuk diunggah di sistem aplikasi online tersebut. Dokumen-dokumen yang diminta di antaranya adalah CV, ijazah S-1 dan S-2, transkrip akademis S-1 dan S-2, sertifikat kemampuan bahasa Inggris (IELTS/TOEFL) yang masih berlaku, dan surat rekomendasi (reference letter). Ada juga perguruan tinggi di Inggris yang meminta pelamar program PhD melampirkan motivation statement.

Dengan kemudahan seperti itu, sebenarnya kita bisa melakukannya sendiri. Namun, karena kondisi tiap orang berbeda-beda, ada juga yang memilih untuk memproses pengajuan aplikasi melalui agen pendidikan. Saya pernah mengalami keduanya. Ada yang saya proses sendiri, ada pula yang dibantu oleh konselor agen saya, IDP Education. Biasanya untuk program PhD, si konselor menanyakan apakah pelamar sudah menghubungi calon supervisor.

Begitu satu atau beberapa aplikasi sudah di-submit, tentu saja langkah selanjutnya adalah menunggu dan memperbanyak doa. Pengumuman hasil aplikasi program PhD biasanya memerlukan waktu antara dua hingga empat bulan. Apabila aplikasi kita berhasil, tentu menjadi rezeki yang patut disyukuri. Namun apabila berbuah negatif alias ditolak (saya sudah mengalami beberapa kali, hehehe), it’s not the end of the world. Tidak perlu dibawa bersedih berlama-lama, segera bangkit! Lanjutkan ikhtiar pencarian profesor dan kirim aplikasi ke universitas lain.

***

Demikian pengalaman dan tips yang bisa saya bagikan. Mudah-mudahan bisa menjadi referensi untuk teman-teman yang saat ini tengah berburu profesor dan mengajukan aplikasi program PhD di universitas luar negeri. Memang, masing-masing orang ada rezeki dan jalannya masing-masing. Ada yang mendapatkan calon supervisor pada percobaan pertama, namun ada pula yang perlu waktu sekian lama untuk memperoleh profesor yang bersedia membimbing. Mencari calon supervisor ibarat mencari jodoh. Perlu ikhtiar serius sebelum akhirnya menemukan figur yang cocok. Yang jelas, diperlukan tekad yang kuat dan motivasi yang tinggi dalam perjuangan ini. Semangat dan sukses!!

 

 

[Gambar diambil dari sini]


Responses

  1. […] sharing  tentang penulisan proposal ini bermanfaat. Pada tulisan berikutnyatulisan berikutnya, insyallah akan saya bagikan pengalaman dan tips saya dalam berburu calon supervisor di perguruan […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: